Kalembu Weri-SJ…………. Pastor Paroki Kalembu Weri, Rm. Polikarpus Mehang Praing, Pr., mengatakan Politik Idendititas, mengakui dan menghargai perbedaan. Hal negatif yang terjadi karena perjuangan politik identitas disertai atau selalu diasosiakan dengan pikiran diskriminasi atau perlawanan kepada kelompok lain atau perkumpulan. Itu keliru dan salah.

Demikian diungkapkannya saat reses anggota DPRD Provinsi NTT di Paroki Kalembu Weri Kecamatan Wewewa Barat Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD) Nusa Tenggara Timur, Senin 12 Juli 2021 yang lalu.
Romo Poli menjelaskan politik identitas pada prinsipnya terarah pada kelompok atau perkumpulan warga tertentu. Dan atas pengertian ini tidak sedikit orang yang melihat dan memahami hal ini secara negatif.
“Tidak usah omong identitas, hal negatif ini terjadi karena perjuangan politik identitas disertai atau selalu diasosiakan dengan pikiran diskriminasi atau perlawanan kepada kelompok lain atau perkumpulan. Itu keliru dan salah” ungkapnya.
Lebih lanjut Romo Poli menjelaskan politik identitas bila dijalankan dengan akal sehat, memperjuangkan atau berpolitik identitas adalah suatu upaya agar kelompok masyarakat bisa dan mampu berkembang dan sejahtera sebagai masyarakat dengan identitasnya. Ada dan masuk kelompok masyarakat tertentu. Dan bahwa setiap masyarakat dengan identitas memiliki perbedaan perbedaan satu dengan yang lain. Sudah pasti bahwa masing-masing minta diperhatikan, minta dijaga.

“Dan tentu tidak dimaksudkan supaya hilangkan perbedaan tetapi mengakui perbedaan-perbedaan sebagai bagian dalam hidup dan sebagai kekayaan hidup” jelasnya.
Menanggapi reses anggota DPRD Provinsi NTT Dominggus Dama, S.ST.MT., dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP) yang beragama Kristen Protestan, Romo Poli mengatakan kepada media ini, bila ditelusuri atau memaknai reses sebagai kesempatan para anggota DPR (legislatif) untuk menampung aspirasi rakyat ini suatu yang positif dan layak didukung.
Kata Romo Polli, saya sendiri, sesuai pemaknaan itu, mendukung dan juga melihat sebagai kesempatan pemimpin atau wakil rakyat bertemu dengan masyarakat.

“Dan pertemuan tadi, sesuai pernyataan umat yang hadir, sungguh suatu yang baru dan baik yang diselenggarakan oleh paroki. Saya sendiri melihat positifnya sebagai warga negara yang hidup dalam dinamika politik bangsa ini apalagi baru pertama kali reses DPR terjadi disini” tuturnya.
Rm. Poli juga menjelaskan mengapa umat (masyarakat) sering mengeluhkan masalah air, karena air sangat penting bagi kehidupan manusia baik untuk diminum dan kebutuhan lalinnya. Saya harus katakan bila banyak masyarakat mengeluh atau mengkritik tentang air adalah hal yang wajar dan benar. Saya tahu di wilayah ini kesulitan air. Air yang diminum dan pemakaian lain oleh masyarakat saat ini adalah air hujan dan air yang dibeli (air tengki). Keluhan ini bisa dimengerti karena kekurangan air menimbulkan sekian banyak masalah lain, kebersihan, kesehatan, perekonomian, dan lain-lain.
“Contoh, seorang petani yang ada disini sulit menanam sayur dalam jumlah yang banyak karena air kurang” ungkapnya.
Ia juga memberi apresiasi pada D’Dama yang sudah melakukan reses di Paroki Kalembu Weri pada saat itu. Berkaitan sentilan kecil D’Dama tentang bantuan yang tidak kesampaian, dimana bantuan terkadang mengalami hambatan dalam penyaluran dan akhirnya, D’Dama mencoba membangun mitra kerja dengan gereja, dengan harapan bantuan sekecil apapun bisa sampai langsung ke masyarakat.
Dalam kesempatan itu dirinya juga berpesan pada umat Katolik perlu membangun kerja sama dengan banyak pihak teristimewa mereka yang terlibat dalam dunia dan tata kepemerintahan. COVID-19 adalah wabah penyakit yang berbahaya dan hingga kini belum berakhir penyebarannya.
“Umat harus taat dan mengikuti protokol kesehatan” pungkasnya. *** (EBuga/010-21),-
Suara Jarmas Portal Berita Sumba
