Plt Bupati Apresiasi Gerakan Literasi BBNTT

Tambolaka-SJ,…. Gerakan masif yang dilakukan Komunitas Relawan Buku Bagi NTT Regio SBD memndapat apresiasi dari Plt.  Bupati Sumba Barat Daya, Drs. Ndara Tanggu Kaha dalam menggelorakan literasi di wilayah tersebut melalui lomba bercerita, lomba membaca puisi dan lomba pidato antar Taman Baca Masyarakat (TBM) yang digelar Sabtu 28 April 2018 pagi kemarin di aula kantor desa Watu Kawula-Kecamatan Kota Tambolaka Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD). Apresiasi ini disampaikan oleh Plt Bupati, Ndara Tanggu Kaha sesaat sebelum membuka kegiatan lomba yang diikuti oleh 6 TBM yang ada di kabupaten tersebut yang dihadiri pula oleh Kepala Perpustakaan dan Kearsipan SBD, Lukas Bili, Kepala Dinas Lingkungan Hidup, Yohanes Bora, Sekretaris Dinas PMD SBD, Lodowaik L. Raya, Kabag Humas SBD, Rofinus Kaleka dan sejumlah juri yang berasal dari berbagai elemen.

“Saya melihat di tempat ini ada suatu usaha besar yang harus kita apresiasi yaitu bagaimana mempersiapkan putra/i terbaik sbd untuk dibina, dikembangkan menjadi bupati, wakil bupati, kepala dinas bahkan bisa menjadi menteri. Oleh karena itu saya hadir hari ini untuk memberikan dorongan kepada anak-anak kita,”katanya.

Dikatakannya, pendidikan anak harus dimulai sejak dini bahkan harus sudah ditempa sejak dalam kandungan bak kertas putih yang harus diwarnai oleh keluarga, sekolah dan lingkungan yang tentunya dimaknai sebagai bentuk tanggung jawab bersama dan bukan menjadikannya alasan untuk dilimpahkan kepada orang lain saat anak itu gagal ketika orang tua sebagai pengajar utama dan pertama gagal dalam membina dan membentuk anaknya.

Plt Bupati SBD Saat membuka kegiatan di Watu Kawula

“Sekarang ada kelompok masyarakat yang berpikir bahwa anak-anak perlu mendapat pendidikan tambahan dengan bacaan-bacaan yang ada. Tadi disebutkan bahwa di sbd tingkat buta huruf itu sangat tinggi. Dan saya lihat dari BPS ternyata bukan hanya 18 persen saja tetapi lebih dari angka itu dimana 70 persen penduduk sbd adalah petani dan 40 persen dari itu tidak sekolah dan tidak tamat sd. Jadi angka 18 persen itu bagi saya masih lebih tinggi lagi,”katanya.

Baca Juga :   SERAH TERIMA KENDARAAN OPERASIONAL POSKO COVID/SBD

Dengan kondisi tingginya angka buta huruf tersebut dirinya menjelaskan akan berdampak pada kehidupan sosial masyarakat sendiri maupun berdampak pula pada program pembangunan di  kabupaten sendiri. Oleh karenanya,  menjadi penting jika kemudian pendidikan menjadi salah satu program unggulan kabupaten SBD yang didalamnya ungkapnya bukan hanya sekedar pendidikan formal semata tetapi juga pendidikan non formal.

“Sekarang kesulitan utama dalam upaya kita melaksanakan program yang berbasis masyarakat adalah perkembangan zaman yang terus berkembang yang membuat kita banyak yang tidak mengerti. Misalnya teknologi pertanian kita yang belum dikuasai oleh masyarakat kita. Dari sisi budidaya kita belum tahu karena buta huruf. Inilah yang berpengaruh pada kegagalan di sektor pertanian. Dan ini saya berbicara dari satu sektor saja belum sektor yang lain,”katanya menambahkan.

Oleh karenanya, gagasan yang dibuat oleh Buku Bagi NTT Regio SBD melalui gerakan literasi mereka dan didukung oleh berbagai pihak lainnya perlu dikembangkan terus karena membaca buku itu sangat penting apalagi kini sudah banyak dari masyarakat yang mulai melupakan budaya baik seperti ini.

“Kita juga bisa baca melalui hp bukan hanya buka fb dan lain sebagainya. Baca artikel yang ada disana. Banyak pengetahuan baik yang bisa kita petik disana. Waktu kita harus digunakan untuk itu kalau kemudian kita tidak punya buku bacaan. Kalau kita baca yang positif kan bagus daripada kita kirim hal-hal yang sifatnya gosip tentu tidak akan beri pengetahuan buat kita. Itu yang harus kita cegah buat anak-anak kita supaya mereka bisa jadi generasi yang lebih baik lagi,”pesannya.

Dukungan yang sama pun disampaikan oleh Kepala Desa Watukawula, Laurensius Todo yang melihat kegiatan yang dilakukan oleh BBNTT Regio SBD sebagai sebuah harapan baru bagi masyarakat di daerah tersebut apalagi dalam prosesnya BBNTT pun telah berperan membentuk taman baca marhaen yang berlokasi di desanya dan telah membantu mendampingi anak-anak di desa tersebut dengan oendidikan non formal.

Baca Juga :   DANREM 161/WS KUNKER KE KODIM 1629/SBD

“Saya bangga karena desa kami terpilih jadi tuan rumah yang tentunya mendorong kami pihak desa juga berpikir soal pendidikan anak-anak kami di desa ini dengan mulai mengembangkan budaya membaca sejak dini,”ungkapnya.

Dirinya pun menyebut khusus pendidikan selain pendirian taman baca, pihaknya juga telah membentuk forum anak desa sebagai wadah anak-anak berinteraksi dan berkegiatan membangun desa sehingga anak-anak tidak lagi menggunakan waktunya untuk kegiatan yang tidak bermanfaat. Dirinya pun berjanji di masa mendatang akan mengalokasikan dana desanya untuk urusan pemdidikan sebagai bentuk kepedulian desa.

Sebelumnya dalam laporan awalnya, perwakilan buku bagi NTT regio SBD, Jeremi Kewuan mengungkapkan bahwa realita pelik pendidikan di daerah ini diantaranya rendahnya minat baca yang dimiliki anak-anak SBD menuntut pihaknya melakukan gerakan masif literasi guna mendorong anak-anak untuk mulai mencintai budaya membaca yang ungkapnya sebagai pintu masuk ilmu pengetahuan.

“Walaupun komunitas ini baru terbentuk pada 12 Agustus lalu tetapi sudah banyak hal yang sudah dibuat dalam upaya membantu pemerintah mengentaskan buta huruf di daerah ini dengan salah satunya mendorong adanya pembentukan taman baca di daerah pelosok,”katanya.

Pencetus sekaligus koordinator penyelenggara Komunitas Relawan Buku Bagi NTT Regio SBD Franky Keban yang dihubungi media disela-sela kegiatan mengatakan ide ini timbul karena dirinya prihatin dengan rendahnya minat baca anak-anak sekolah di SBD, selain sudah membantu dengan membentuk taman bacaan dan mengupayakan adanya bantuan-bantuan buku bacaan bagi siswa-siswi di SBD, dirinya dengan dibantu oleh rekan-rekannya yang peduli pada pendidikan menyelenggarakan lomba ini untuk memupuk kesadaran membaca dan menaikan motivasi anak-anak untuk rajin membaca serta melibatkan pemerintah (dari desa hingga kabupaten) untuk memberi perhatian yang lebih bagi anak-anak dalam dunia pendidikan.

Baca Juga :   Warga Sumba Barat Digegerkan Dengan Penemuan Bayi Perempuan

Selain mendorong pembentukkan taman baca tambahnya, pihaknya juga melihat bahwa perlu adanya pendampingan yang intens kepada taman baca yang sudah dibentuk sebagai upaya mendorong taman baca untuk tetap beraktivitas karena realita berbicara bahwa banyak taman baca yang dibangun namun kemudian dibiarkan begitu saja tanpa adanya aktivitas belajar ataupun aktivitas membaca.

“Dan lomba ini adalah salah satu bagian yang tidak terpisahkan dari aktivitas pendampingan ini untuk terus mendorong taman baca sedapat mungkin melakukan aktivitas di taman bacanya sehingga anak bukan saja mendapatkan ilmu di sekolah tetapi juga di taman baca tempat dia berada. Kegiatan ini juga kami selenggarakan untuk menyambut hari pendidikan yang jatuh pada tanggal 2 mei mendatang. Bagi kami hari pendidikan bukan hanya sekedar formalitas dengan apel semata tetapi lebih daripada itu bagaimana kita harus isi hari pendidikan itu dengan kegiatan semacam ini,”katanya.

Dirinya pun berharap dengan lomba semacam ini bisa membantu meningkatkan minat anak untuk terus mengembangkan dirinya menjadi genarasi yang siap pakai di masa mendatang, dan adanya perhatian yang serius dari semua stake holder yang ada di SBD ini. Pantauan media penyelenggaraan lomba ini sangat meriah dan anak-anak sangat antusias karena mendapat perhatian dan kesempatan untuk tampil menunjukan kemmapuannya.(OC$),-

Leave a Reply

Your email address will not be published.