Pilkada SBD Jangan Memecah belah hubungan persaudaraan

Tambolaka-SJ., Waktu berjalan terus dan tidak terasa pesta rakyat kabupaten Sumba Barat Daya (SBD) dalam memilih dan menentukan calon pemimpin SBD tinggal beberapa bulan saja. Ketiga kandidat yang beratarung sudah akan melewati putaran pertama Kampanye disebelas  kecamatan di SBD. Sehingga tidaklah menjadi aneh jika bahan perbincangan, diskusi bale-bale sampai ke pelosok-pelosok wilayah di SBD, politik menjadi topik utama dalam bincang-bincang tersebut. Tiga paket yang bertarung yaitu MDT-GTD (Markus Dairo Talu-Gerson Tagu Dedo), DAMAI (Dominggus Dama-Kornelis Tanggu Bore) dan KONTAK (Kornelius Kodi Mete-Marthen Christian Taka) menjadi bintang dan topic dan topic dalam pemebicaraan dari bale-bale ke bale-bale. Analisis kekuatan,  kelemahan, peluang dan ancaman menjadi hitung-hitungan dalam memenangkan pesta demokrasi 27 Juni 2018 mendatang.

Tokoh masyarakat Kodi Utara, Agustinus Wakur Kaka
Tokoh masyarakat Kodi Utara, Agustinus Wakur Kaka

Kelihaian dan ketajaman tim-tim pemenangan dalam mempromosikan kandidatnya menjadi salah satu tolok ukur  untuk memastikan kandidatnya memenangkan pilkada ini. Segala macam cara dipakai oleh tim pemenangan untuk merebut hati para masyarakat pemilih di SBD. Selain memaparkan Visi, Misi dan program unggulan setiap kandidat juga selalu disertai dengan intimidasi, mengangkat isu SARA dan politik identitas. Pertarungan tidak saja dengan kampanye langsung tetapi juga dengan menggunakan sarana media (media online, cetak dan media sosial lainnya). Alhasil masyarakat menjadi tidak bebas dalam menilai kandidat tersebut melalui program-program unggulan yang ditawarkannya.

Seperti diketahui dari ketiga kandidat tersebut dua yang sudah incumbent dan satu yang kandidat yang baru yaitu paket DAMAI. Perseteruan ini didasari pengelaman pahit yang sudah dirasakan pada pilkada 2013 yang harus berakhir pada putusan MK. Salah tokoh masyarakat Kodi Utara,  Agustinus Wakurkaka yang juga merupakan petani professional yang sudah berhasil ketika  dihubungi media di rumahnya pada Jumat, 16 Maret 2018 berceriata banyak hal mengenai pandangan dan harapannya dalam mewujudkan Pilkada yang aman, nyaman, terbuka dan damai pada 27 Juni mendatang.

Baca Juga :   Ngebut di Jalanan Seorang Mahasiswa Tertembak Kakinya.

“Pilkada ini adalah milik masyarakat SBD karena ada tiga figur-figur yang tampil  merupakan putra-putra terbaik SBD.  yang tampil bersaing dalam memperebutkan kursi nomor 1. Pilkada merupakan pesta demokrasi jadi sebuah pesta tidak boleh diselenggarakan dengan berbagai macam persoalan yang mengganggu kenyamanan dan meriahnya pesta tersebut,  ketiga kandidat harus menyadari bahwa pilkada merupakan milik masyarakat  SBD dan para kandidat  sehingga tidak boleh adanya berbagai macam persoalan yang manggangu pelaksanaan pesta demokrasi itu”  ungkapnya memulai perbincangan dengan media.

Lebih  lanjut Tinus sapaan akrabnya mengingatkan agar kita belajar dari pengalaman masa lalu yang membawa kita dalam suasana yang mencekam yang berakibatkan kerugian besar bagi Negara dan masyarakat SBD. Masyarakat Kodi dan Wewewa menjadi terpecah-pecah, sehingga hubungan persaudaraan yang sudah terjalin selama ini melalui kawin mawin menjadi renggang hanya karena politik.

“kita harus ingat tana loda wee maringi dan pada wemalala, bukanlah semboyan biasa yang dicetuskan oleh para pendiri kabupaten ini pada saat mekar dari Sumba Barat, ini merupakan wujud satu kesatuan sebagai implementasi dari bhineka tunggal ika” ujarnya.

Demi terwujudnya pelaksanaan pilkada yang jujur, adil dan damai Tinus menaruh harapan sangat besar pada penyelenggara pemilu yaitu KPU, Pnawaslu bahkan TNI/Polri, agar selalu netral dan tegas dalam menyikapi semua permasalahan yang terjadi yang bertujuan memecah belas masyarakat dan pendukung setiap kandidat.

“ingat kita hanya berbeda pilihan dan bersaing selama 3 bulan ini, setelah itu kita tetap saudara bersaudara diantara suku Kodi, Wewewa dan Loura, jadi jangan kita terpengaruh dengan upaya  provokator-provokator yang bertujuan mengadu domba kita” tuturnya tegas.

Tinus juga menghimbau kepada para kandidat dan tim pemenangannya agar dalam pelaksanaan kampanye lebih memprioritaskan pemaparan visi, misi dan programnya. Jangan membangun opini dengan mengangkat isu suku, agama dan ras. Perang program melalui media social juga sangat disayangkannya, karena banyaknya beredar akun-akun palsu yang menjadi provokator dan menjelekan paket lain.

Baca Juga :   PAN SBD TOREHKAN PRESTASI GEMILANG

“fitnah lewat media social dengan memakai akun palsu itu tidak jentel, kita boleh kritik kalau memang harus dikritisi, tetapi kita juga harus berani mengapresiasi jika memang ada keunggulan dari pihak lawan, kritik disini bukan untuk menjelekan tetapi untuk membangun” katanya lagi.

Lebih lanjut Tinus berharap pada Polri dan Panwaslu untuk menindak tegas pengguna-pengguna akun palsu yang sudah semakin menjamur di SBD ini. Dan untuk pelanggaran-pelanggaran yang sudah dibuat agar Panwas Kabupaten brani menindaknya dengan tegas, diantaranya keterlibatan ASN dan Aparat desa dalam mendukung kandidat tertentu.

“tolong kandidat jangan  mengintimidasi aparat desa untuk bermain dibelakag layar, karena sumber konflik yang sebenarnya akan dimulai dari desa itu sendiri, biarkan masyarakat secara bebas menentukan pilihannya yang sesuai dengan hati nuarinya” ujarnya mengakhirti perbincangannya dengan media SJ.  (TIM-SJ),-

Leave a Reply

Your email address will not be published.