PERAYAAN MINGGU PALEM QUASI PAROKI ST. PAULUS KARUNI

Karuni-SJ……….. Masih dalam suasana COVID-19 pada misa pertama ratusan umat memadati gedung Gereja untuk merayakan hari Minggu Palem. Perayaan minggu Palem merupakan awal dan pekan yang menentukan dalam karya penyelamatan Allah melalui Yesus Kristus. Dengan memasuki Yerusalem, Yesus memasuki masa sengsara, di salibkan, wafat dan bangkit. Orang-orang yang menyambut Yesus di Yesrusalem, mereka berteriak, Hosana-hosana Putera Daud, salibkan Dia, salibkan Dia.

Untuk menyambut Yesus masuk kota Yerusalem Quasi Paroki St. Paulus Karuni-Kecamatan Loura-Kabupaten Sumba Barat Daya-NTT, Sabtu (9/4/2022) umat Quasi menyambut Yesus dengan teriakan piawau pakalaka, yang diiringi dengan bunyian gong dan tambur, diriahkan dengan tarian dan lagu-lagu. Perayaan Minggu Palem dipandu langsung oleh Pastor Quasi Paroki St. Paulus Karuni.

Dalam kotbahnya, P. Robertus Melkior Bayo,CSsR mamaparkan surat gembala Uskup Keuskupan Weetabula dengan tema: Memulihkan Kehidupan: Bumi Sehat, Manusia Sejahtera. Dalam suratnya Mgr. Edmund Woga, CSsR Uskup keuskupan Weetabulah mengemukan bahwa, pada awal penciptaan semesta alam, hubungan persaudaraan antara sesama manusia, manusia dengan seluruh unsur alam, baik dengan makhluk hidup, maupun dengan benda-benda mati, seperti: tanah, air, angin dan api “hidup”. Dan lebih mengagumkan lagi, karena pada puncak tertinggi, dari setiap susunan silsilah suku atau marga, ‘Sang Pencipta’lah yang berada di sana, yang dialami sebagai sumber pertama dan utama, asal-usul dan pokok-pangkal seluruh alam semesta, di mana manusia berada dan hidup.

Pola hidup dengan kesadaran akan persaudaraan semesta, pesaudaraan dengan seluruh unsur alam seperti ini, mustinya tidak asing lagi bagi kita di Nusantara, termasuk kita di pulau Sumba. Kesadaran akan pentingnya hidup dalam persaudaraan yang erat dan kesatuan yang utuh serta menyeluruh, dengan seluruh bagian-bagian alam di lingkungan hidup kita, adalah warisan yang sangat berharga dari leluhur kita.

Baca Juga :   Turut Merasakan Apa Yang Sesama Rasakan Lewat Berbagi Kasih

Katanya lagi, kedekatan leluhur dengan seluruh unsur alam di sekeliling hidup mereka, merupakan faktor yang membangun rasa dan menggerakkan karsa, alias menjadi pemicu bagi leluhur, sampai menarik kesimpulan dan mengakui, bahwa hubungan mereka dengan unsur-unsur alam lainnya, yang bukan manusia, dan bahkan hubungan dengan penghuni ‘dunia atas’, adalah: sebagai rekan kerja pada peristiwa penciptaan, sebagai sahabat seperjuangan dalam menata hidup bersama, sebagai pemberi dan penerima jasa demi kepentingan bersama dan bahkan dianggap sebagai saudara-saudari sekandung.

Tidak heran, jika leluhur kita di pulau Sumba mengajar dan mendidik kita, untuk menghormati dan menghargai alam serta segala isinya, yang memberikan makan-minum setiap hari kepada kita manusia. Nenek-moyang mendidik kita, untuk memberi-tahu hewan korban, tentang maksud dan peruntukan penyembelihan mereka. Kita tidak boleh memotong hewan secara sembarangan, tanpa lebih dahulu  memohon izin. Bahkan darah hewan harus dibiarkan mengalir di tanah, karena darah yang mengalir itu adalah makanan dan minuman bagi bumi, tempat kita bercocok-tanam, mendapatkan hasil untuk kelanjutan hidup kita manusia. Kita melihat, betapa adat warisan leluhur memperlihatkan penghargaan, penghormatan dan rasa terima kasih yang begitu besar kepada tanah dan air. Leluhur mengajar kita untuk memohon izin kepada ina mangu tana – ama mangu luku sebelum kita membuka kebun, bercocok-tanam, mendapatkan nafkah untuk makanan dan minuman kita. Juga ketika kita memetik hasil, kita harus menyampaikan terima kasih kepada bumi dan kepada Sang Pencipta yang memberikan segala-galanya untuk kelanjutan hidup kita.

Bapak Uskup mengajak kita untuk merenungkan sikap dan tingkah-laku kita terhadap bumi, yang adalah rumah kita bersama, lumbung kita sekeluarga semesta, tanah dan air untuk semua kita, yang diciptakan oleh Yang Mahakuasa. Kita membuat tubuh ibu pertiwi kita hangus dan babak-belur pada saat kita sembarangan membakar hutan. Padahal ketika hutan terbakar, maka banyak makhluk hidup yang diciptakan Tuhan untuk menjaga kesehatan bumi, yang berarti juga kesehatan kita, ikut mati terbakar. Hama belalang sudah menjadi hama rutin bagi kita di Sumba, karena burung-burung dan hewan-hewan lain yang memangsa belalang sudah punah atau melarikan diri dari pulau ini.

Baca Juga :   GEREJA MEMBUTUHKAN AWAM YANG AKTIF

Ketika menggunakan bahan-bahan kimia untuk mematikan rumput, kita membunuh juga banyak makhluk hidup lain yang diciptakan Tuhan untuk menjaga bumi dan melindungi manusia dari berbagai penyakit yang mematikan seperti covid-19. Dengan menggunakan pupuk-pupuk kimia untuk menyuburkan tanah, kita melumuri tanah dan air dengan racun-racun yang membahayakan hidup manusia. Para ahli yang membuat penelitian berpendapat bahwa perbuatan manusia yang tidak ramah lingkungan dan merusak ekosistem alam akan meningkatkan bahaya virus baru yang menginfeksi manusia dan bisa lebih mematikan. Kita juga harus sadar, bahwa alam ciptaan Tuhan akan dengan sendirinya bergerak dan bereaksi untuk memperbaiki keadaannya yang sudah bopeng dan carut-marut karena perbuatan manusia. Setiap kali alam yang sudah rusak memulihkan diri, manausia akan mengalami dampaknya, berupa berbagai bencana alam yang mengancam hidup kita manusia..   Dan kita juga diingatkan akan pentingnya menjaga keutuhan bumi dan memeliharanya, karena memelihara bumi dengan segala isinya berarti memelihara hidup kita sendiri, memelihara anak-cucu kita dan segala makhluk hidup lainnya.

Bapak Uskup mengingatkan lagi isi surat Bapa Suci Fransiskus tujuh tahun yang lalu,  untuk semua umat katolik di seluruh dunia, dengan judul: LAUDATO SI yang berarti TERPUJILAH ENGKAU. Paus menulis surat ini untuk mengajak seluruh umat katolik memuji Sang Pencipta dan berterima kasih kepada-Nya, karena telah menciptakan bumi, yang memelihara dan mengasuh manusia, serta menumbuhkan berbagai tumbuhan untuk menjamin kelangsungan hidup manusia dan makhluk hidup lainnya. Paus mengajak kita untuk memelihara dan merawat bumi yang sedang sakit parah dan kekurangan gizi, karena tingkah laku manusia yang rakus, tidak ugah-hari, egois dan hanya memikirkan kepentingan diri sendiri. Sudah waktunya kita bertobat dan merobah perilaku kita terhadap bumi yang adalah rumah kita bersama dan ibu pertiwi seluruh alam semesta. Banyak hal yang perlu kita perbaiki dalam diri kita sehubungan dengan sikap dan tingkah-laku kita terhadap lingkungan hidup, agar bumi dan dunia sekitar kita, kembali menjadi sehat seperti semula. Paus Fransiskus dalam ensiklik Laudato Si memberi tiga saran untuk perubahan dalam hidup kita, supaya berbuah cinta-kasih terhadap bumi dan masyarakat, terkhusus orang-orang miskin dan bersahaja. Kita harus mengganti gairah konsumtif dengan kesediaan untuk berkorban, keserakahan dengan kemurahan hati, dan pemborosan dengan semangat berbagi. Memacu semangat kerja untuk mencari nafkah, dari pada menempuh jalan pintas untuk mendapatkan nafkah, misalnya dengan mencuri, merampok, berjudi atau terbuai oleh produk-produk modern yang tidak ramah lingkungan. Syukur kepada Tuhan, karena semakin banyak orang beriman, yang mulai sadar untuk memelihara lingkungan hidupnya.

Baca Juga :   Sang Kreator Dibalik Suskesnya Pelaksanaan PRPrG

Banyak yang memberikan apresiasi pada surat dari Bpk Camat Loura tgl. 2 Maret 2022, perihal ‘Himbauan Penghentian Kegiatan Perjudian’. Apresiasi juga untuk komunitas orang-orang muda yang peduli terhadap kebersihan dan pemeliharaan lingkungan hidup yang asri dan sehat. Sebetulnya, dengan menerima sakramen pembaptisan dalam nama Tritunggal Yang Mahakudus, kita diberi rahmat dan tugas untuk menjadi ‘wunang’ atau ‘ata paneghe’ Allah untuk menyampaikan kasih-Nya kepada bumi dan seluruh ciptaan dengan memelihara dan menjaga agar bumi tetap sehat dan kita sejahtera. *** (Pit Moa/13-22).-