PENDIDIKAN DI SUMBA MASIH RENDAH

Prof. Dr. Nena Padilla Valdez

Tambolaka-SJ…………Pendidikan di Sumba pada umumnya masih rendah karena belum bisa menunjang potensi dan sumber daya yang dimilikinya guna meningkatkan pendapatan ekonomi masyaakatnya. Demikian hal ini diungkapkan oleh Prof. Dr. Nena Padilla Valdez, dari Faculty Professor, Humanities and Management Faculties yang  hadir di Sumba sebagai pemerhati atau pengamat dalam pelaksanaan pelatihan guru dan pengawas SD yang diselenggarakan oleh WLF (William and Lily Foundation) bekerja sama dengan PT. Kuart International yang bergerak dalam bidang pendidikan di aula hotel Sinar Tambolaka dari tanggal 12-14 September 2018.

Pernyataan ini bukanlah suatu pernyataan yang mengada-ada tetapi jika dilihat dari kondisi mutu pendidikan di Sumba pada umumnya masih ditemukan adanya murid kelas 4 sampai kelas 5 SD yang belum menguasai dengan benar pendidikan dasar calistung,  baca tulis dan berhitung. Dan bagi orang Sumba pada umumnya budaya literasipun masih kurang atau  minat baca masih  rendah.

Profesor Nena yang diwawancarai khusus oleh media SJ, Jumat, 14 September 2018 siang disela-sela kegiatan pelatihan melihat Sumba sebagai daerah yang sangat unik dan mempunyai potensi dan sumber daya yang kaya. Tetapi dirinya menyayangkan karena belum adanya usaha atau upaya-upaya yang total dan menyeluruh untuk bisa mengangkat atau mendukung peningkatan ekonomi masyarakatnya.

“Kemarin saya jalan-jalan ke pasar, dan saya lihat yang dijual di pasar sangat-sangat segar tetapi tidak diatur dengan baik, sehingga tidak membuat para konsumen tertarik untuk membelinya karena tidak ada atau kurangnya kemasan dari produk-produk lokal yang dijual” ungkapnya.

Prof.  Nena menyayangkan karena akhir-akhir ini banyak turis yang masuk ke Sumba, tetapi kekayaan-kekayaan lokal yang ada tidak dikemas secara baik dan teratur untuk dapat menaik minat para wisatawan tersebut.  Seharusnya kekayaan-kekayaan lokal yang ada itu harus diangkat dengan cara tertarur, pasarnya dirapikan dan membuat kemasan yang menarik minat dari para konsumen.

Baca Juga :   Jhon Rambo Pemimpin PGRI Malaka Yang Energik

“Kenapa ini terjadi? karena semua dimulai dari pendidikan, pendidikan masih rendah sehingga masyarakat belum mampu berpikir yang lebih tinggi atau lebih jauh kedepan” tuturnya.

Prof. Dr. Nena Padilla Valdezsaat memberikan arahan pada peserta pelatihan di aula hotel Sinar Tambolaka SBD

Memang adanya perbedaan mutu sekolah yang berada di perkotaan dengan pedesaan, seperti ada jurang pemisah antara sekolah di kota dengan sekolah di desa,  demikian halnya dengan tenaga pendidik atau guru di desa dan kota juga mempunyai perbedaan. Profesor Nena mengatakan guru yang baik sebaiknya berada di sekolah yang baik, tetapi kadang yang terjadi guru yang tidak berada  di sekolah yang tidak baik juga sehingga akhirnya murid menjadi korban.

“Kadang ada murid yang mempunyai intelektual yang tinggi, tetapi guru-gurunya tidak mumpuni, sayang sekali” ungkapnya penuh perhatian.

Pendidikan bisa berjalan dengan baik apabila kebutuhan daripada guru-guru dan murid-murid tersebut sudah terpenuhi. Kebutuhan-kebutuhan dasar yang sangat prinsipil tersebut diantaranya adalah sarana penunjang seperti air, makanan dan perumahan.

“Jadi harus ada intervensi dari level yang paling tinggi yaitu Kementrian Pendidikan untuk melihat Indonesia secara global, tetapi Pemerintah Daerah bisa memberi dukungan untuk meningkatkan dunia pendidikan tersebut dengan memenuhi kebutuhan dasar manusia. Saya lihat baru-baru ada anak kelas 6 SD badannya kecil dan masih pendek, hal ini tentunya berkaitan dengan gizi. Kebutuhan-kebutuhan pokok tenaga pendidikpun perlu mendapat perhatian sehingga mereka bisa bekerja dengan kreatif dan inovatif.” tuturnya lebih lanjut.

Profesor Nena menjelaskan guru-guru yang bagus kalau tidak didukung dalam memenuhi kebutuhannya juga menjadi lemah. Karena dia juga adalah manusia. Dan oleh karena itu kebutuhan primernya harus dipenuhi.

Kehadiran Profesor Nena di SBD ini karena kepedulian yang tinggi pada pendidikan, sehingga dirinya hadir sebagai pengamat atau pemerhati dibidang pendidikan yang sedang digerakan oleh WLF dengan memberikan pelatihan guru-guru SD di SBD guna meningkatkan mutu dan kualitasnya untuk menciptakan kader-kader bagi bangsa dan Negara khususnya di Pulau Sumba.

Baca Juga :   BERJUMLAH 127 SISWA, KEPSEK SMA NEGERI HALIOAN BERHARAP AGAR ADA PENAMBAHAN SISWA DI TAHUN AJARAN BARU INI
Prof. Dr. Nena Padilla Valdez dan Ryan EY Peter, koordinator program WLF

Pelatihan guru dan pengawas yang menggunakan pendekatan inquiry based ini menurut Prof. Nena sudah sangatlah tepat, karena pendekatan ini yang bisa memberikan garis tengah antara local dengan yang global. Walaupun adanya intervensi dalam hal-hal local, sebenarnya ini sudah merupakan suatu bagian dari proses menuju global.

“Karena fokus dalam inquiry based ini adalah berpikir dan itu sangat tinggi. Ini bukan masalah berpikir yang biasa tetapi level dalam berpikir yang tinggi. Karena merupakan proses untuk merangsang untuk bereskplorasi, menemukan jawaban masalah-masalah yang ada, eksperimen dan melakukan inovasi.  Kita juga mempersiapkan generasi muda SBD karena sumber daya alam dan situasinya sudah sangat bagus. Tetapi belum ada orang atau pemikir-pemikir yang bisa meningkatkan dengan kreatifitas tinggi dan memanfaatkan segala potensi lokal yang ada” ujar Prof Nena kepada media SJ.

Profesor Nena juga menghimbau buat masyarakat  yang ada di SBD khususnya dan Sumba pada umumnya untuk selalu bersyukur pada Tuhan karena Pulau Sumba kaya akan sumber daya yang disiapkan oleh Tuhan.

“Orang Sumba sangat beruntung, karena sumber daya sudah disiapkan dan diberikan oleh Tuhan secara gratis. Tugas Guru, Orang tua dan seluruh masyarakat adalah menjaga kelestarian budaya dan alam Sumba. Sumba harus bangga sebagai orang Sumba karena memiliki budaya yang unik” tutupnya mengakhiri perbincangannya dengan Suara Jarmas. (OC$),-

Leave a Reply

Your email address will not be published.