Jumlah Kekerasan Terhadap Anak Meningkat di Sumba Timur, Penggiat Anak Bersuara

Vian Antoni selaku Ketua Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Kabupaten Sumba Timur (kiri) dan Florianus Paulus Ngera Pembina Ana Humba Community (kanan)

Waingapu-SJ……………….. Kasus kekerasan terhadap anak dari tahun ke tahun naik terus, untuk periode 2019 saja sudah terjadi 15 kasus kekerasan seksual terhadap anak. Demikian dijelaskan Vian Antoni selaku Ketua Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Kabupaten Sumba Timur ketika ditemui dikantornya, Jumat (8/2/2019).

“Masuk 2019 sampai awal bulan sudah terjadi 15 kasus. Saya akan bertemu dengan Pekerja Sosial dari Dinsos (Dinas Sosial untuk membahas ini. Saya sendiri akan coba menganalisa 36 kasus yang terjadi di tahun 2016 karena di tahun itu cuma satu kasus yang tidak ada hubungannya dengan anak, sisanya ada hubungan dengan anak seperti ayah kandung, om kandung, tetangga yang jadi pelaku. Orang-orang disekitar anak yang jadi pelaku artinya anak-anak sudah tidak aman dilingkungannya sendiri karena pelakunya adalah orang-orang yang seharusnya melindungi anak-anak” UJar Vian Antoni.

Vian Antoni melanjutkan bahwa  LPA Sumba Timur menghimbau kepada semua pihak mendorong perlindungan anak terpadu berbasis masyarakat dimana semua pihak secara terpadu membangun mekanisme untuk melindungi anak-anak. Lingkungan seperti keluarga, sekolah, agama harus bersama membangun mekanisme perlindungan terhadap anak. Terkait proteksi dari keluarga, penting sekali membangun komunikasi antara orang tua dan anak makanya kami juga mendorong keluarga yang ramah anak karena dari data yang ada cuma sebelas persen saja anak-anak yang menjelaskan permasalahannya ke orang tuanya dan sekitar lima puluh persen yang menceritakan ke temannya.

Ia juga menambahkan pentingnya ada Rumah Pemulihan Anak. ” Korban kekerasan sesual kepada anak ada ratusan tetapi Sumba Timur belum memiliki Rumah Pemulihan Anak padahal untuk kasus kekerasan seksual seharusnya butuh pendampingan khusus dan tenaga spesialis. Kenyataannya anak-anak ini dibiarkan saja padahal untuk kasus kekerasan seksual, anak-anak yang jadi korban sudah mengalami trauma. Intinya Kasus kekerasan terhadap sudah begitu banyak tetapi respon penentu kebijakan masih sangat rendah.” Tegas Vian Antoni.

Baca Juga :   IKSBD-BALI AKAN GELAR NATAL BERSAMA

Senada dengan Vian, Florianus Paulus Ngera Pembina Ana Humba Community dan salah satu penggiat Anak di Sumba timur menuturkan bahwa perlu banyak ruang positif diluar rumah maupun diluar sekolah. “Hari ini kita tidak bisa berbohong bahwa sebagian besar kebahagiaan anak ada di luar pintu rumah dan di luar pintu sekolah maka dari itu perlu banyak orang maupun kelompok yang berkontribusi positif lewat ruang ruang diluar sekolah dan rumah sehingga membatasi ruang gerak para pelaku kekerasan terhadap anak” (Team SJ),-

Leave a Reply

Your email address will not be published.