Bahtera Dorong Tata Kelola & Akuntabilitas Yang Baik Disektor Pendidikan

Waikabubak-SJ …………………. Berlangsung di Aula GKS Waikabubak, Rabu (18/12/19) dilaksanakan pertemuan sekolah tingkat kabupaten Sumba Barat,  Program Promosi Prakarsa Masyarakat Sipil untuk pendidikan inklusif dan berkulitas di Indonesia.

Dalam Sambutannya Direktris Yayasan Bahtera, Martha Rambu Bangi mengatakan program ini bertujuan untuk mempromosikan tata kelola dan akuntabilitas yang baik disektor pendidikan di Indonesia. Melalui keterlibatan masyarakat  sipil yang aktif dalam proses pembangunan publik dan juga memperkuat dan meningkatkan kerjasama antar organisasi masyarakat sipil dengan pemerintah daerah untuk secarah efektif mengimplementasikan inisiatif untuk terwujudnya pendidikan Inklusif dan berkualitas.

Naomi Rambu Wada (membelakangi kamera) saat memberikan arahan-arahannya

Program ini akan melakukan kerja-kerja advokasi yang fokus untuk memengaruhi dan memantau proses perencanaan dan penganggaran sektor Pendidikan (infastruktur, beasiswa, kualitas guru),  memperbaiki tata kelola anggaran infrastruktur pendidikan, monotoring pelaksanaan Kartu Indonesia Pintar termasuk pengunaannya, serta aktif melacak anak putus sekolah dan melakukan riset DAPODIK dan SPM untuk memiliki data yang akurat.

Lebih lanjut Martha menyampaikan capaian Yayasan Bahtera yaitu sudah terbentuknya 10 komunitas sekolah dan melakukan pertemuan sebanyak 8 kali dalam sebulan, komunitas sekolah melakukan pendekatan dengan orang tua,  siswa putus sekolah dan disabilitas.  Komunitas sekolah sudah melakukan kerja gotong royong, pengawasan komunitas sekolah pasca pembangunan agar memperhatikan kebutuhan anak disabilitas.  Sebanyak 5 sekolah mempublikasikan RAPBS, sebanyak 5 Sekolah melakukan rehab gedung dan terbentuknya jaringan CSO tingkat kabupaten. Sudah ada transparansi anggaran sekolah yang dibuat dalam bentuk papan informasi. Sudah mampu mengidentifikasi permasalahan-permasalah yang terjadi disekolah.

Martha Rambu Bangi (tengah berdiri) saat memfasilitasi Pertemuan Komunitas Sekolah di Sumba Barat

“Dalam waktu dekat kami akan melakukan dialog publik dengan pengambil kebijakan kita akan angkat isu utama Kartu Indonesia Pintar. Target kami untuk tahun berikutnya adalah semua anak bisa mengakses sekolah dengan nyaman tanpa melihat latar belakang apapun, selain mengakses pendidikan yang nyaman siswa juga menjadi anak didik yang berkualitas. Berkualitas tidak hanya cerdas dalam bentuk ilmu tetapi harus cerdas dari segi perilaku dan moralitas. Jadi anak-anak dibentuk dengan mental yang bagus jangan saling membully sesama siswa. Dengan advokasi ini kecamatan lain bisa terakomodir karena baru 2 kecamatan yaitu Wanokaka dan Lamboya. Kebijakan nanti bukan hanya untuk 2 kecamatan tapi se Sumba Barat” ungkapnya.

Baca Juga :   Pemda Sumba Tengah Teken MoU Dengan UNITRI Malang

Naomi Rambu Wada yang menfasilitasi pembentukan Forum ini menjelaskan tidak hanya untuk 10 sekolah dari 2 kecamatan yaitu Lamboya dan Wanokaka,  tapi forum yang terbentuk akan mengakomodir pada saat audiens dengan pengambil kebijakan untuk seluruh sekolah di Sumba Barat.

Yang sudah tercapai adalah kerja gotong royong, komunitas berjalan dengan baik, ada hubangan baik dengan masyarakat dan sekolah, serta transparansi anggaran. Melakukan komunikasi dan koordinasi dengan sekolah, kita siapkan langkah-langkah untuk melakukan advokasi serta target yang kita ingin capai” ujarnya.

Kepala Sekolah SD Inpres Pantai Rua Lukas Taniu

Lukas Taniu, S.Th PAK  dari SD INPRES Pantai Rua mengatakan saat diwawancarai oleh media mengatakan  adanya manfaat  dampingan Yayasan Bahtera selama ini, bagi sekolahnya.  

“Sekain lama saya bertugas tapi baru tugas 10 bulan pendampingan sudah banyak perubahan disekolah, yaitu rehab gedung. Selama ada kegiatan Yayasan Bahtera selalu memfasilitasi dan selalu menghadiri kegiatan apa saja yang dilakukan sekolah.

Dirinya juga memberi saran kepada Bahtera agar  terus melakukan komunikasi dengan tukang (pekerja bangunan) yang kerja,  agar fasilitas penyandang disabilitas bisa disediakan untuk memenuhi kebutuhannya sehingga terwujud sekolah yang inklusi dan berkualitas.

Lebih lanjut Lukas mengatakan apa yang menjadi kekurangan sekolah, Yaysan    Bahtera selalu mendampingi dan berkomunikasi dengan pengambil kebajikan. Masalah yang masih harus mendapat perhatian yaitu fasilatas sarana prasarana dan penempatan guru yang berpendidikan sarjana,  karena PNS di sekolahnya  hanya ada 4 orang dan   5 orang guru kontrak. ****

Liputan: Emil Buga,-