ANAK ADALAH PROSPEK MASA KINI DAN MASA DEPAN

Pdt. Vera L. Maspaitella-Sekeon, M.Th

Tambolaka-SJ……………. Anak adalah prospek masa kini dan masa depan, sehingga anak perlu mendapat perhatian khusus dan mempersiapkan anak  menjadi generasi penerus keluarga, gereja dan negara yang beriman, berilmu, utuh dan tangguh. Ini merupakan salah satu misi yang diemban oleh Yayasan Pelayanan Anak Calvary yang dipimpin oleh Pdt. Vera L. Maspaitella-Sekeon, M.Th salah satu peserta Pra Sidang Raya Perempuan Gereja (PRPrG) di GKS Mata Tambolaka Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD).

Pimpinan Yayasan Pelayanan Anak Calvary cabang Bekasi yang ditemui media di GKS Mata Senin (4/11/19) ini menjelaskan jangan pernah kita berpikir kita bisa membuat perubahan didunia ini atau di bangsa ini atau di Sumba jikalau tidak dimulai dari anak sesuai motto dari Yayasan yang diasuhnya win the children today win the world tommmorow (menangkan anak-anak hari ini menangkan dunia masa depan).

Oleh karena itu dalam  Sidang Raya PGI ke XVII kali dirinya membawa misi agar biro Perempuan dan Anak di PGI saat ini dipisah  menjadi biro tersendiri antara Perempuan dan Anak. Dengan kondisi sekarang ini permasalahan yang dihadapi oleh perempuan dan juga anak yang sudah semakin  kompleks dirinya meyakini sudah saatnya dipisah kedua bidang ini dipisah. 

“Dilevel PGI dengan kondisi sekarang yang begitu mengemukanya perjuangan-perjuangan untuk Anak bahkan kampanye gereja untuk Anak, maka sudah saatnya PGI mempunyai biro anak. Dan itulah alasan kehadiran saya saat ini untuk memperjuangkannya” ungkapnya.

Lebih lanjut Hamba Tuhan dari GKSI Jakarta ketua sinode  Pdt. Matius Mangentan ini menjelaskan peranan gereja harus ramah anak, memperjuangkan hak-hak anak. Alasannya anak-anak ada perempuan dan  ada laki-laki juga, selain itu anak-anak belum bisa memperjuangkan dirinya. Ini sudah menjadi tugas kita orang dewasa, gereja dan para pemimpin yang harus berjuang untuk anak-anak dan itu harus sedini mungkin.

Baca Juga :   GEREJA MEMBUTUHKAN AWAM YANG AKTIF

“Di level anak-anakpun bahkan waktu baru lahir anak-anak sebenarnya sudah mengalami diskriminasi, contohnya di suku-suku tertentu membedakan gender. Saya dengar di Sumbapun seperti itu masih ada yang lebih mengutamakan anak laki-laki daripada anak perempuan. Itulah alasannya sehingga anak betul-betul mendapatkan perhatian” tuturnya lebih jauh.

Pdt. Vera yang sudah memimpin Yayasan Pelayanan Anak Calvary selama 20 tahun ini berharap adanya perhatian khusus untuk anak karena 1/3 penduduk dunia adalah anak-anak, 1/3 penduduk Indonesia adalah anak-anak dan itu berarti 1/3 jemaat gereja adalah anak-anak, maka sudah saatnya gereja bangkit untuk anak-anak. Untuk sesegera mungkin, sedini  anak itu dipimpin dan memiliki Tuhan Yesus Kristus secara pribadi dalam hidup mereka. Ketika ketika kita memenangkan anak kita memenangkan 4 generasi anak, remaja, dewasa dan orang tua. Anak yang mempunyai TUhan YEsus secara pribadi tidak akan mudah diombang ambingkan oleh perkembangan jaman sekarang ini yang penuh dengan pergumulan.

Pdt. Vera yang sudah pernah mengikuti Sidang Raya PGI di Jayapura tahun 1994 yang lalu, memberi apresiasi yang luar biasa atas pelayanan kepanitiaan PRPrG oleh sinode GKS dalam menyelenggarakan kegiatan ini. Saya dengar partisipasi warga jemaaat gereja yang notabene dari ekonomi yang bukan berkelebihan tetapi ikut terlibat berkontribusi dalam kegiatan besar seperti ini. Ini menunjukan orang Sumba memiliki hati yang ingin mendukung suksesnya Sidang Raya PGI yang ke17 ini.

“Ini adalah panitia yang hebat, wilayah yang hebat, yang luar biasa dan saya harap jangan berhanti sampai disini tetapi teruslah berjuang untuk perempuan dan secara khusus untuk anak-anak Sumba masa depan karena children today leader tomorrow, anak sekarang adalah pemimpin masa depan baik di sinode, gereja, masyarakat,  pemerintah dan perusahaan, jadi GKS bisa juga berjuang untuk anak-anak. Salut untuk tuan rumah GKS” katanya lagi.

Baca Juga :   Perayaan Iduladha di SBD Tetap Khusyuk Dengan Protokol Kesehatan

Ditempat terpisah Pdt. Lelim Yan Fransher Limbong, M.Th kepala biro oikumene HKBP sepakat adanya biro anak sendiri seperti yang sudah dilakukan oleh HKBP gereja terbesar yang ada di Indonesia. HKBP juga dikenal membidangi lahirnya persekutuan PGI yang dulu namanya Dewan Gereja Indonesia pada tahun 1950.

Pdt. Lelim Yan Fransher Limbong, M.Th (kiri) saat bincang-bincang dengan media SJ

“Saya sepakat dengan pendapat itu karena biro perempuan dan anak itu sangat jauh lompatannya, lebih baik malah biro anak, remaja dan pemuda disatukan tetapi di PGI malah dipisah. Kalau kita benar-benar lebih memberi perhatian kepada anak sebagai pewaris iman gereja di masa depan saya mengusulkan biro anak berdiri sendiri” ujarnya pasti.

Lebih jauh Pdt. Lelim menjelaskan jika adanya biro khusus untuk anak supaya benar-benar  konsen perhatiannya, tidak boleh lagi setengah hati memperhatikan anak-anak. Benar-benar sebagai gereja menginvestasikan perhatian yang besar, dana yang besar untuk anak-anak.

“Karena merekalah yang akan meneruskan kesaksian kita, 20-30 tahun kedepan di negeri kita, ditempat dimana kita berada merekalh penerus kita. Tapi penting juga untuk mencari orang-orang yang benar-benar punya roh, punya kecintaan pada anak-anak, dia harus mampu menjadi seperti anak, untuk melayani anak-anak itu ” tutupnya. *****

Penulis: Octa Dapa Talu,-