SBD TERBAIK DALAM PENANGANAN FILARIASIS DI NTT

by -423 views

Tambolaka-SJ……….. Hari kedua keiatan offline dan virtual meeting LKP Wijaya Kusuma Kupang bekerja sama dengan WHO dan Dinas Kesehatan Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD) menekankan pada Implementasi LFMDA/POPM Filariasis dengan regimen IDA kepada petugas kesehatan dan kader kesehatan yang mewakili semua puskesmas di Kabupaten Sumba Barat Daya.

Team Leadr LKP Wijaya Kusuma Kupang, Dr. drg. Dominikus Minggu, M.Kes (ketiga dari kanan) dan TA LF MDA/POPM Filariasis SBD Dr. Ina Debora Ratu Ludji, S.Kp., M.Kes (kedua dari kanan) saat memberi arahan dan penguatan pada peserta kegiatan

Kagiatan yang dilaksanakan di aula hotel Sinar Tambolaka SBD pada 11-12 Januari 2021 ini bertujuan Mengidentifikasi kesiapan dan pelaksanaan Implementasi LF‐MDA/POPM Filariasis dengan rejimen IDA; Memberikan informasi tahapan pelaksanaan LF‐MDA/POPM Filariasis dengan regimen IDA kepada petugas kesehatan dan kader kesehatan yang mewakili seluruh puskesmas di SBD; Memberikan sosialisasi pengumpulan data dan penyaringan target implementasi LF-MDA bersama IDA rejimen untuk petugas kesehatan dan kader kesehatan.

Selain itu Memberikan sosialisasi pencatatan dan pelaporan pelaksanaan LF‐MDA/POPM Filariasis dengan regimen IDA kepada perwakilan petugas kesehatan dan kader kesehatan dari semua puskesmas di Kabupaten Sumba Barat Daya; Memberikan sosialisasi pencegahan tindak lanjut dampak ikutan pasca  minum obat filariasis di Puskesmas dan RSUD Reda Bolo; Implementasi LF‐MDA/POPM Filariasis dengan regimen IDA kepada petugas kesehatan dan kader kesehatan yang mewakili semua puskesmas di Kabupaten Sumba Barat Daya dan Sosialisasi dan  Role Play tentang mekanisme Implementasi Kegiatan Monitoring dan Evaluasi  LF‐MDA/ POPM Filariasis di Kabupaten Sumba Barat Daya.

Diharapkan juga dalam kegiatan ini mendapatkan komitmen dari pengambil kebijakan serta lintas program dan lintas sektor terkait untuk implementasi LF‐MDA/POPM Filariasis dengan tiga regimen untuk mencapai 100% cakupan geografis; Menyiapkan implementasi LF‐MDA/POPM Filariasis  dengan regimen IDA untuk mencapai cakupan minimal 95 % dari total populasi; dan Menyiapkan rencana implementasi, supervisi, monitoring & evaluasi yang memadai untuk LF‐MDA/ POPM Filariasis dengan regimen IDA. 

Peserta pelatihan yang diikuti oleh Pemerintah Kecamatan, Puskesmas dan Kader Posyandu ini berjalan sangat serius dengan sharing dan diskusi guna menentukan langkah tepat dalam pemberian obat IDA kepada masyarakat.

Kabupaten Sumba Barat Daya dengan jumlah penduduk 377.922 jiwa memiliki target 305.922 (80,94%). Kabupaten ini terdiri dari 11 Kecamatan dan 16 Puskesmas, 173 Desa dan 2 Kelurahan. Dari target 89% jumlah penduduk di kabupaten tersebut, 72% penduduk sudah minum obat. Cakupan POPM tertinggi adalah Puskesmas Kawangohari (82%), diikuti oleh Puskesmas Weekombak dan Werilolo (81%). Sedangkan Watukawuli tercatat terendah 59%.

Kabupaten Sumba Barat  Daya merupakan salah satu dari 11 kabupaten dengan endemisitas sedang dimana filariasis kronik terbanyak berada di Kodi yaitu 11 orang; Wewewa Selatan 82 orang; Kodi Utara 7 orang dan Kodi Balaghar 213 orang (Dinas Kesehatan Sumba Barat Daya, 2019).

Team Leader LKP Wijaya Kusuma Kupang, Dr. drg. Dominikus Minggu, M.Kes saat ditemui awak media

Pemberian Pemberian Obat Massal dengan Triple Drugs Ivermectin, Diethylcarbamazine, dan Albendazole (IDA) sudah dimulai sejak tahun 2016. Di RSUD Kabupaten Sumba Barat sudah ada 55 orang yang telah ditangani dengan IDA, serta masyarakat Sumba Barat Daya dan Flores Timur. Prevalensi penyakit kaki gajah di Sumba Barat Daya angka mf sebesar 3,5% (Tania, 2020). Pada bulan Oktober 2020, MDA dengan Triple Drugs Ivermectin, Diethylcarbamazine, dan Albendazole (IDA) akan diberikan, menandai lima tahun berturut-turut.

Team leader LKP Wijaya Kusama Kupang, Dr. drg. Dominikus Minggu, M.Kes kepada awak media menjelaskan  program pencegahan dan eliminasi kaki gajah di SBD sudah diintervensi sejak tahun 2017, dengan pemberian 2 jenis obat Diethylcarbamazine, dan Albendazole (DA). Namun WHO dengan kebijakannya berdasarkan pengalaman diberbagai wilayah termasuk Afrika, menambahkan satu jenis obat yaitu Ivermectin.

“Efektifitas pemberian obat untuk eliminasi  Filariasis ditambah satu jenis obat yaitu Ivermectin, obat ini diharapkan dapat mempercepat penurunan micro filaria dari cacing yang ada didalam darah, jadi lebih efektif. Oleh karena itu di SBD sejak tahun 2020 telah diberikan 3 jenis obat massal tersebut” ungkapnya.

Dr. Dominggus juga menjelaskan adanya komitmen bersama dari tingkat kabupaten melalui Bupati dan jajarannya untuk mempercepat pemberian 3 jenis obat itu denga target 90% cakupan.

“Kementrian Kesehatan maupun Dinas Provinsi memberikan apresiasi untuk SBD, walaupun adanya pandemic covid saat ini, sejak 31 Desember 2020 dilaporkan pemberian 3 jenis obat itu (IDA) cakupannya 72% lebih, ini berarti PR untuk SBD tinggal sedikit lagi (18%) lebih bagus dari kabupaten lainnya” pungkasnya. *** (002/SJ/21),-