Tambolaka-SJ………. Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) targetkan dalam masa pemerintahan Gubernur Victor Laskodat saat ini mencapai angka penurunan stunting hingga 12%. Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat kekurangan gizi kronis terutama pada 1000 Hari Pertama Kehidupan (APK).

Demikian disampaikan oleh Vince Bimas Panggula, SKM., Perencana Madya pada Bappelitbangda NTT yang menjadi narasumber dalam pendampingan aksi konvergensi kabupaten Sumba Barat Daya(SBD) Selasa (25/5/21) di aula hotel Sumba Sejahtera Tambolaka SBD.
Vince menjelaskan fungsi dari provinsi adalah melakukan fasilitasi monitoring, dimana salah satunya adalah fasilitasi aksi konvergensi.

“Kami telah membuat target penurunan Stunting sampai masa pemerintahan Gubernur Viktor. Hasil yang ingin kami capai di pemerintahan VBL adalah 12%. Posisi sekarang 24,2%. Semua Kabupaten dan Kota kita sudah berikan target yangn harus dicapai” ungkapnya.
Dirinya menjelaskan saat ini untuk SBD angka stuntingnya 33,2% dari 36%. Pihaknya menargetkan penurunan angka stunting tahun depan sebesar 26%. Untuk mewujudkan target tersebut dibutuhkan kerja sama antar lintas sektor perangkat daerah maupun LSM.
Vince juga memberi apresiasi pada 55 orang peserta pendampingan aksi konvergensi di SBD yang sangat antusias mengikuti pelatihan.

“Teman-teman sangat antusias tinggal kita mendorong saja. Mereka masih agak pasif kalau tidak dirangsang dari belakang. Pemda disini harus mendorong para pelaku. Pemerintah desa harus bekerja sama untuk penurunan angka stunting didesa, karena yang paling banyak stunting adanya di desa” jelasnya.
Sementara itu nara sumber lainnya dari Institusional Specialist for NTT, Ahmad Karno Djaba mengatakan untuk menurunkan angka stunting di SBD harus ada komitmen dari Pemerintah (Bupatinya) yang dilihat dari dokumen RPJM Daerah.

“Apakah ada review RPJMDnya atau tidak, sehingga bisa menjawab progress prioritas besar dari pusat (Presiden Jokowi). Perlu dibentuk tim koordinasi khusus, dibuat kegiatan perencanaan kegiatan yang memadai, disiapkan anggaran lalu dibangun Sekretariat Bersama (Sekber)” ujarnya.
Ahmad menjelaskan Sekber ini penting karena konvergensi adalah sebuah keterpaduan program dari masing-masing OPD kepada lokasi sasaran yang menjadi angka tertinggi stunting di SBD untuk menjadi perhatian serius.

Untuk diketahui upaya penurunan stunting dilakukan melalui dua intervensi yaitu intervensi gizi spesifik untuk menyasar penyebab langsung dan intervensi gizi sensitif untuk menyasar penyebab tidak langsung. Intervensi spesifik umumnya diberikan oleh berbagai program pada sektor kesehatan 30%.
Berdasarkan hasil e-PPPGM (elektronik Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat) pengukuran tahun 2020 jumlah anak stunting di SBD sebanyak 5.917 dari total yang diukur 17.799 anak dengan prevalensi stunting mencapai 33,2% , sedangkan pada tahun 2019 jumlah anak stanting 3.758 dari total yang diukur 10.393 anak stunting dengan prevalensi 38,2% artinya penanganan stunting di SBD mengalami penurunan dengan angka penurunan 5,1%.

Kegiatan pendampingan aksi konvergensi Kabupaten SBD ini diselenggarakan selama 2 hari tanggal 24 dan 25 Mei 2021 yang dibuka dengan resmi olej Kepala Dinas Kesehatan SBD, drg. Yulianus Kaleka dan didikuti oleh 55 peserta dari berbagai OPD, PKK dan LSM. *** (Octa/002-21),-
Suara Jarmas Portal Berita Sumba
