Pada suatu hari seorang Pastor lari keluar gerejanya dan berteriak: gereja telah mati, gereja sudah meninggal dunia. Tidak lama kemudian kabar baru ini tersebar diseluruh Paroki dan Dewan Paroki datang kepada pastor menanyakan apa yang dibuat. Baik, kata sang pastor, saya kira kita harus menyiapkan pemakaman yang pantas baginya.

Maka semua orang mulai meratapi gereja dan menyiapkan pemakaman. Peti mayat diletakan di tengah gereja, di depan altar. Semua orang datang mau melihat gereja yang telah meninggal dunia. Tetapi apa yang mereka lihat di dalam peti mayat itu? Ada yang sangka mereka akan melihat bapak uskup di dalam atau malahan bapak suci. Yang lain menyangka mereka akan melihat salah satu gambar orang kudus. Tapi mereka tidak melihat sesuatu semacam itu. Setiap orang yang datang dan pamit dengan gereja yang sudah mati dan memandang ke dalam peti mayat itu, melihat dirinya sendiri di dalam sebuah cermin besar.
Penerapan
Siapa harus prihatin, apakah gereja hidup atau mati, apakah gereja sehat atau sakit, apakah ada sedikit atau banyak anggotanya. Apakah itu keprihatinan para imam, uskup, katekis, atau biarawan/i ?. Tetapi tidak hanya mereka sendiri. Kesehatan gereja merupakan tanggungjawab semua orang Kristen. Kalau setiap orang Kristen menjalankan tugas dengan baik, gereja itu aktif, hidup dan subur. Gereja membutuhkan awam yang aktif dan hidup. ***( Oleh: Pit Moa).-
Suara Jarmas Portal Berita Sumba
