Tambolaka-SJ……. Kepala Seksi Bimbingan Masyarakat (Bimas) Katolik Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sumba Barat Daya menghadirkan 10 orang Guru Pendidikan Agama Katolik se Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD) di aula Kantor Kementerian Agama SBD Nusa Tenggara Timur, Kamis (27/3/21) untuk menyusun soal Ujian Akhir Sekolah (UAS) Mata Pelajaran Pendidikan Agama Katolik Tahun Pelajaran 2020/2021.

Kegiatan tersebut dibuka secara resmi oleh Kepala Seksi Bimas Katolik (Kasi) yang diwakili Pengawas Pendakat Stefanus Jama Nola, S.Ag. Dalam arahan Stefanus Jama Nola, S.Ag mengatakan bahwa kegiatan akan berlangsung selama dua hari.
“Jadilah bahan UAS yang berkualitas, pelaksanan UAS merupakan salah satu komponen yang sangat penting untuk mengetahui tingkat pemahaman dan kemampuan siswa dalam menguasai konsep, maupun proses pembelajaran yang telah dipelajarinya” ungkapnya.

Lebih lanjut Stefanus menjelaskan bahwa dalam pembuatan soal harus dibuat dulu desain tes, pembuatan kisi-kisi soal yang telah terencana. Kisi-kisi soal dibuat sesuai dengan Kompetensi Inti (KI), Kompetensi Dasar (KD), Materi, dan indikator pencapaian, maka dalam pembuatan soal akan sangat mudah, dan tentu juga akan sangat membantu dalam penyebaran soal dan bahkan semua aspek dapat diukur dengan baik dan dengan akurat.
Kisi-kisi juga merupakan deskripsi kompetensi dan materi yang akan diujikan yang bertujuan untuk menentukan ruang lingkup dan sebagai petunjuk dalam menulis soal. Soal yang dibuat juga perlu diperhatikan daya intake siswa dan tingkat kesukaran yang dituangkan dalam ranah pengetahuan, pemahaman, dan penerapan.

Pada tempat yang sama Pengawas pendakat Yakobus Bulu, S.Ag, Mikhael Menga, S.Ag silih berganti menjelaskan beberapa unsur-unsur penting demi mempertajam seperangkat soal UAS yang bermutu. Soal UAS yang berkualitas sesuai dengan indikator, memenuhi standar soal HOTS (Higher Order Thinking Skills) untuk menggali kemampuan analisis, evaluasi dan penciptaan dari seorang siswa, sedangkan LOTS (Lower Order Thinking Skills) yaitu jenis soal untuk menggali kemampuan mengingat, memahami dan menerapkan. Pilihan jawaban harus homogen dan logis. Setiap soal harus mempunyai satu jawaban yang benar. Pokok soal harus dirumuskan secara jelas, tegas dan benar.
Berdasarkan pemetaan Kisi-kisi, di masing-masing jenjang sesuai dengan waktu yang telah ditentukan, dalam kelompok penyusun mulai beraksi. Penyusun bergumul bersama tentang materi ajar yang sudah diaktualisasikan di Sekolah, dengan standar prosestase kelas IV (20%), V (30%), VI (50%), dan VII (20%),VIII (30%) dan IX (50%). Penyusun mengakomodir semua materi menjadi seperangkat bahan UAS yang siap pakai dalam pelaksaan UAS tahun pelajaran 2020/2021.

Seorang penyusun Petrus Moa, S.Ag mengemukakan bahwa dalam meramu soal yang bermutu memang tidak mudah, bukan hanya sekedar menulisnya tapi juga karena harus memahami isi atau maksud dari kisi-kisi yang disusun.
“Menulis soal tidak hanya sekedar copy paste, tapi juga harus memperhatikan intake siswa dan tingkat kesukaran dari soal yang akan diujikan. Soal yang disusun untuk mengetahui sejauh mana siswa mampu menerima materi yang sudah dipelajari. Bukan semata-mata untuk membedakan mana siswa pintar, mana siswa yang bodok”ungkapnya. *** (Pit Moa/012-21).-
Suara Jarmas Portal Berita Sumba
