Virus Babi Yang Menyerang SBD, Masih Misterius

Tambolaka-SJ…… Virus ternak babi yang menyerang kabupaten Sumba Barat Daya (SBD) masih misterius, belum diketahui pasti jenis virus apa penyebabnya. Demikian diungkapkan Sekretaris Dinas Peternakan SBD drh. Oktavianus Dapadeda usai mengikuti sidang dengar pendapat dengan Badan Anggaran DPRD SBD, Kamis (30/4/20) kemarin.

Sekretaris Dinas Peternakan SBD, drh. Oktavianus Dapadeda saat mengikuti sidang dengar pendapat dengan Banggar DPRD SBD

Dalam keterangannya didepan awak media Okta Dapadeda menjelaskan berdasarkan pengalaman pada tahun 1998 yang lalu  yang menyerang ternak babi yang ada di Sumba, gejala yang ditemukan sekarang sama dengan gejala  virus Hog Cholera.  Namun demikian melihat merebaknya penyakit babi di Pulau Timor dan Bali yang disebabkan oleh virus African Swine Fever (ASF), pihaknya menduga ada kemungkinan virus ASF sudah masuk ke Sumba.

Kata Okta, hingga saat ini pihaknya belum mendapat satu diagnosa laboratorium di Denpasar, bahwa virus yang menyerang ternak babi di Sumba adalah ASF.

“Yang sudah mengirimkan speciment ke lab di Denpasar adalah Dinas Peternakan Kabupaten Sumba Barat pada bulan Maret yang lalu, kita sendiri SBD sudah melakukan pengambilan specimen tetapi belum bisa mengirimnya karena belum mendapatkab quota dari pihak maskapai penerbangan (Wings Lion maupun Nam Air)” ungkapnya.

Dirinya berharap pada Jumat (1/5/20) sudah bisa mengirimkan specimen tersebut sehingga bisa memperoleh kepastian virus apa yang melanda ternak babi yang ada di Sumba.

“Pastinya virus apa yang menyerang ternak babi di SBD belum bisa dipastikan karena masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium di Denpasar. Dan kami juga akan minta untuk dilakukan pengujian ASF” jelasnya.

Dalam upaya mencegah agar wabah virus babi ini tidak cepat menyebar Dinas Peternakan SBD sudah melakukan penyemprotan desinfektan kandang sejak 2 minggu yang lalu. Selain itu juga melakukan edukasi pada petani peternak dan lingkungan sekitarnya yang berpotensi untuk terularnya virus yang menyerang babi ini.

Baca Juga :   PENDIDIKAN YANG BERKUALITAS DAN INKLUSIF

“Kita juga sudah melakukan pengobatan pada ternak babi yang sakit  serta melakukan terapi suportif. Memberikan terapi penguatan pada hewan-hewan sekitar yang berpotensi terjangkit virus mematikan ini” katanya.

Untuk memastikan tidak musnahnya ternak babi yang ada di SBD, Okta Dapadeda mengharapkan adanya dukungan kebijakan anggaran dari Pemerintah sehingga bisa melakukan perlindungan terhadap ternak babi dari kemungkinan munculnya wabah.

“Untuk melakukan perlindungan pada populasi pada ternak babi, harus 80% dari populasi itu tervaksin, pengalaman kabupaten Sumba Barat selama 2 tahun terkahir hanya melakukan vaksinasi hanya mencover sebanyak 25% dari populasi yang ada, di SBD dari data yang ada saya lihat hanya mencapai 36%. Apabila adanya dukungan kebijakan anggaran kita bisa melaksanakan vaksinasi Hog Cholera secara optimal paling tidak 80% dari populasi ” tutupnya. ***** (OC$),-