TAPAL BATAS KARANG INDAH MULAI MEMANAS

Kodi-SJ……….. Menjelang penetapan tapal batas antara Kabupaten Sumba Barat dengan Sumba Barat Daya (SBD) 20 Juni 2019, warga masyarakat Karang Indah turun ke jalan dengan membentuk kelompok-kelompok kecil sebagai wujud tidak menerima untuk bergabung dengan kabupaten Sumba Barat. Tampak ibu-ibu juga memasak nasi dan air panas di pinggir jalan yang dimulai dari kali Pola Pare hingga ke arah Pantai Rica desa Karang Indah Kecamatan Kodi Balaghar kabupaten SBD.

Sejumlah media yang turun langsung ke lapangan pada Selasa, 18 Juni 2019 kemarin menyaksikan langsung sekelompok warga berkelompok-kelompok kecil dengan persiapan alat perang seperti tombak, parang, ali-ali dan bahkan terlihat ada beberapa yang sudah menyiapkan bom molotop.

“Kami tidak akan sudi untuk bergabung dengan Gaura Kabupaten Sumba Barat, jika memang pemerintah (Gubernur) tetap memaksakan agar desa Karang Indah bergabung kesana, lebih baik warga Karang Indah dimasukan dalam karung lalu dibuang ke laut, agar kami semua musnah” ungkap salah satu warga.

Koordinator aksi yang dihubungi media Dominggus D. Wungo kepada media aksi ini merupakan lanjutan dari aksi sebelumnya beberapa waktu lalu, karena belum mendapat respon dari pemerintah provinsi maupun pemerintah kabupaten SBD.

“Aksi ini merupakan bentuk kesiapan warga masyarakat Karang Indah menerima resiko apapun jika penetapan tapal batas tetap dilakukan pada 20 Juni nanti, kami dengar bahwa Senin kemarin pidato bupati saat apel di Pemda SBD Kadula sudah mengumumkan bahwa tanggal 20 Juni 2019 nanti Gubernur NTT akan turun untuk penetapan tapal batas di Karang Indah” ujarnya.

Lebih lanjut Dominggus mengatakatan warga desa Karang Indah sudah sepakat untuk tetap menolak apapun resikonya, karena apabila bergabung ke Sumba Barat nanti trauma yang pernah terjadi tahun 2013 yang lalu antara desa Bondo Bela Kecamatan Wewewa Selatan SBD dengan desa Wetana Gaura Sumba Barat akan terulang kembali.

Baca Juga :   BUPATI NIGA LANTIK PENJABAT KADES BONDO TERA

“Kami masyarakat sudah trauma dengan kejadian tahun 2013 yang lalu yang sudah merugikan warga Bondo Bela tetapi tidak ada perhatian dan solusi dari pemerintah” tuturnya lebih lanjut.

Tokoh pemuda Stepanus Tanggu Holo kepada media secara tegas menolak bergabung dengan Sumba Barat dan menyayangkan pemerintah SBD yang sudah menipu rakyat Karang Indah.

“Pada saat pemilu yang lalu kami memilih Bupati, DPRD untuk kabupaten SBD, kami bayar pajak untuk SBD, tetapi sekarang kami dijual ke Sumba Barat, antara Gaura dengan Kodi sangat banyak perbedaannya, beda adat, beda bahasa, dan yang paling kami takuti adalah masalah keamanan. Pada 23 Maret 2013 yang lalu, kebakaran rumah di Karang 30 buah rumah karena masalah tapal batas antara desa Wetana dan desa Karang Indah. Jika nanti kami bergabung dengan Sumba Barat kalau terulang lagi kejadian yang sama, kita mau lapor dimana? Karena kami sudah di musuhi” ungkapnya.

Lebih lanjut Stepanus mengatakan masayarakat Karang Indah sudah menderita 7 tahun, permohonan untuk pengurusan sertifikat tanah millik mereka di Karang Indah tidak diijinkan oleh pertanahan kabupaten SBD, dengan alasan Karang Indah sudah masuk dalam administrasi kabupaten Sumba Barat. Tetapi untuk hal-hal lain seperti pajak, 3 kali pemilihan Bupati dan DPRD untuk SBD. KTP dan KK yang dimiliki masih beralamat SBD.

“Kenapa kami masyarakat ini ditendang kiri kanan, kami sudah dimekarkan dan kami ditarik kembali, ada apa dibalik ini semua, jika pemerintah sudah tidak suka lagi dengan Karang Indah, lebih yang satu desa ini dimusnahkan” ujarnya penuh emosi.

Hermanus H. Mone tokoh pemuda Karang Indah juga menegaskan masyarakat sudah sepakat untuk bertahan di SBD. Aksi yang dilakukan sekarang sebagai wujud kebersamaan dan kekompakan warga Karang Indah untuk menunjukan pada pemerintah bahwa mereka dengan tegas menolak bergabung ke Sumba Barat.

“Kami tidak bisa dipisahkan sebagai orang Kodi, adat kami disini, bahasa kami bahasa Kodi dan ada kubur nenek moyang kami yang tidak bisa dipindahkan lagi, nenek moyang kami sudah sumpah adat dulu masalah tapal batas antara SBD dengan Sumba Barat sejak jaman Belanda. Singkatnya kami tidak mau pindah bergabung ke Sumba Barat, semua resiko kami akan terima apapun itu” tegasnya.

Baca Juga :   Kerahkan Ratusan Personel, Kapolres Sumba Barat Amankan Jalannya Ritual Adat Poddu di Kampung Tarung

Pantauan media jajaran Koramil 03 Kodi turun mengamankan warga yang melakukan aksinya. Danramil 03 Kodi, Kapten Inf. Tohir Yuswan Putra kepada media mengatakan dirinya bersama pasukan turun untuk mengamankan agar tidak terjadi hal-hal yang diinginkan. Untuk masalah tapal batas ini, ia belum begitu mengikuti karena dirinya baru bertugas 6 bulan di Koramil 03 Kodi.

Lebih jauh Kapten Tohir juga menghimbau masyarakat Karang Indah agar tidak terpancing dengan isu-isu apalagi suasana seperti ini.

“Sementara ini kondisi aman, kami akan bersinergi dengan polsek karena ini sebenarnya adalah kewenangan polisi. Intinya jangan sampai terjadi ada benturan lah apalagi bunuh-bunuhan, makanya kami minta kalau bisa parang-parang itu jangan dibawa-bawa apalagi ini khan sudah merdeka, percayakanlah pada aparat, ada polisi yang menangani hukum ada kami yang bisa membantu” ujarnya pada media. (OC$),-