Penanganan Covid-19 Di Sumba Dari Perspektif Relawan

Forum Komunikasi Mahasiswa Sumba di Jawa (Forum KMSJ) kembali menggelar diskusi online dengan tema “Penanganan Covid-19 Di Sumba Dari Perspektif Relawan” pada tanggal 15 Mei 2020. Diskusi kali ini di moderatori oleh Mardian Putra Frans Mahasiswa Pascasarjana UKSW, Salatiga.

Diskusi kali ini menghadirkan 4 pembicara yang sudah malang melintang dalam dunia ke relawanan yakni David Lele, S.S, M.Pd dari Sumba Barat Kita Bisa, Ronaldus Asto Dadut dari Ked’de Sumba, Elan Day dari Gerakan Sambung Asa, dan Delis Hambawali dari Tana Humba Peduli Covid-19.  Diskusi yang berlangsung selama 3 jam ini diikuti oleh 28 peserta yang terdiri dari aktivis-aktivis muda sumba yang berada di Jawa maupun di Sumba.

Moderator membuka diskusi dengan sebuah pertanyaan bagaimana keadaan dan situasi dari masyarakat sekarang terkait pandemi covid di masing-masing kabupaten?

Dalam kesempatan pertama David Lele menjawab bahwa saat ini masyarakat Sumba Barat lebih mawas diri apalagi sudah ada positif pertama di di Sumba. Pada kesempatan kedua Elan Day menjawab bahwa masyarakat Sumba Tengah saat ini sudah mengikuti protokol yang ditetapkan oleh Pemerintah walaupun ada beberapa yang masih tidak mematuhi anjuran Pemerintah. Kesempatan ketiga Aldi Wali menjawab bahwa sejauh ini masyarakat Sumba Timur sudah mengikuti himbauan Pemerintah namun ada ketakutan masyarakat yang walaupun memiliki sakit yang lain tetapi tidak berani ke Rumah Sakit karena rasa parno terhadap Covid-19. Pada kesempatan ke empat Asto Dadut mengatakan untuk Sumba Barat Daya bahwa kesadaran masyarakat untuk mengikuti protokol pemerintah  masih rendah sejauh ini.

Tantangan apa yang dihadapi relawan di masa pandemi ini?

Menurut David Lele tantangan yang dihadapi pada masa pandemi ini beragam terkait dengan masyarakat yang terkadang tidak memandang kerja-kerja relawan selain itu juga regulasi juga turut menjadi penghambat. Namun, disatu sisi David mengapresiasi kerja relawan terkhususnya di daerah Wanokaka yang setia menjelaskan dan mengedukasi bahaya covid-19 kepada masyarakat yang lewat di sepanjang jalan utama Wanokaka. Kondisi yang diungkapkan David tidak jauh berbeda dengan yang diungkapkan Elan Day bahwa masyarakat mengabaikan dan tidak menganggap kerja-kerja relawan padahal relawan yang juga berjuang di lapangan.

Baca Juga :   Warna Baru Di Karnaval Sumba Timur

Kondisi berbeda diungkapkan Aldi Wali bahwa Pemerintah dan masyarakat Sumba Timur dalam hal ini sangat terbuka dengan kerja-kerja relawan, walaupun ada juga sebagian masyarakat yang tidak terbuka mengingat tahun ini merupakan tahun politik di sumba Timur mereka memandang bahwa ini upaya politik, namun hal itu tidak di persoalkan karena relawan benar-benar bekerja membantu masyarakat.

Lebih lanjut Aldi Wali mengatakan bahwa secara kesehatan boleh jaga jarak dengan virus namun kemanusiaan itu harus dipentingkan dan harus saling mendorong dan memotivasi. Menurut Asto Dadut relawan adalah kerja kemanusiaan. Biarpun oknum tertentu ada yang merasa terganggu,  terbantu, mengatakan bahwa relawan mencari panggung tidak menjadi soal karena itulah tantangan menjadi relawan. Selain itu menurut Asto Dadut dalam dunia ini kita memposisikan manusia dalam 3 posisi ada yang menjadi pemain, penonton dan pemerhati.  Dalam hal ini Asto mengambil sikap sebagai pemain. Tantangan relawan di Sumba bagi Asto Dadut adalah belum adanya kerjasama dalam melihat isu covid sebagai masalah bersama.

Apa yang sudah relawan lakukan sejauh ini dan apakah ada dukungan dari komunitas, organisasi, atau lembaga lain bagi teman-teman relawan?

Kerja-kerja relawan sejauh ini adalah membagikan APD, Masker, Sembako serta mengedukasi masyarakat lewat poster, flyer, dan spanduk-spanduk. Selain itu juga aktif berkampanye di media sosial. Tentunya dalam kerja-kerja yang dilakukan tidak terlepas dari banyak uluran tangan teman-teman organisasi lain di luar Sumba. Bantuan-bantuan yang diberikan seperti masker, APD, makanan dan sebagainya. Bantuan ini didapatkan dari berbagai kampanye-kampanye baik di media sosial, pers serta kerjasama dengan berbagai elemen lainnya.

Bagaimana caranya agar mahasiswa Sumba di Jawa bisa membantu teman-teman relawan di Sumba?

Relawan merupakan tugas mulia, tugas yang berangkat dari kegelisahan dan problem kemanusiaan. Oleh karena itu berharap teman-teman di Jawa mendukung dengan cara apapun lewat kampanye, media sosial dan sebagainya. Selain itu perlu bergerak bersama, saling mendorong dan menopang karena itulah kekuatan relawan. ***

Baca Juga :   Ribuan Massa Mengikuti Upacara Pemakaman Anggota DPRD Ananias Bulu

Liputan: Yaser,-

Leave a Reply

Your email address will not be published.