Pembangunan di Sumba Keliru

Pdt. Jackvelyn Frits Manuputty, Sekretaris Umum PGI Masa Bakti 2019-2024

Waingapu-SJ………………….Sidang Raya XVII PGI yang dilaksanakan sejak tanggal, 08 November 2019 di Gedung Pertemuan Pdt. Hapu Mbaya, Sumba Timur telah berakhir dan ditutup, Rabu, 13 November 2019. Acara penutupan diawali dengan ibadah dan sekaligus pelantikan pengurus MPH-PGI, MP, dan BPP masa bakti 2019-2024.
Acara penutupan dihadiri oleh Thomas Penturi, Dirjen Bimas Kristen Kementerian Agama Republik Indonesia, Wakil Bupati Sumba Timur Umbu Lili Pekuwali serta dari 91 anggota PGI, utusan PGIW, mitra PGI dan para undangan baik dari dalam dan luar negeri serta tamu undangan dari jemaat lainnya.
Wakil bupati Sumba Timur, Umbu Lili Pekuwali, ST. MT dalam sambutannya mengatakan dengan ditetapkan kepengurusan yang baru untuk masa bakti 2019-2019, kami berharap dari pemerintah dan masyarakat kabupaten Sumba Timur ialah adanya upaya pelayanan yang maksimal bukan saja kepada jemaat ataupun gereja tetapi masyarakat disekitar gereja itu berada.
“Dengan ditetapkan kepengurusan yang baru untuk masa bakti 2019-2019, dari pemerintah dan masyarakat kabupaten Sumba Timur berharap adanya upaya pelayanan yang lebih maksimal bukan saja kepada jemaat ataupun gereja tetapi masyarakat disekitar gereja itu berada” ungkapnya.
Umbu Lili Peku menyampaikan permohonan maaf jika selama pelaksanaan sidang raya hingga selesai adanya pelayanan yang kurang berkenan.
“Selama pelaksanaan sidang raya hingga selesai, jika dalam pelayanan ada yang kurang berkenan kami atas nama pemerintah dan masyarakat sumba menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya” ungkap Umbu Lili Pekuwali.” ungkapnya.
Sekretaris umum (Sekum) PGI masa bakti 2019-2024, Pdt. Jackvelyn Frits Manuputty, MA ketika diwawancarai usai penutupan mengatakan tidak bisa serta merta mengatakan bahwa orang sumba miskin biarkan orang sumba menafsirkan sendiri kemiskinan menurut orang Sumba.
“Dengan melihat kondisi sumba yang kering atau gersang lalu dengan serta merta kita mengatakan sumba itu miskin. Biarkanlan orang sumba menafsirkan dan merumuskan sendiri kemiskinan menurut mereka, karena suara meraka tidak bisa diwakilkan, perasaan orang sumba tidak bisa disampaikan orang lain, iman mereka tidak bisa di cangkok orang lain. kita harus hati-hati mengatakan sumba miskin” ungkap Pdt. Jackvelyn.
Dia melanjutkan, Ketika banyak yang mengatakan miskin dan miskin maka hal tersebut tertanam dalam diri mereka. Memang miskin kalau di ukur dengan IPM tetapi orang tidak mengukur apakah spiritnya miskin atau tidak.
Masih menurut Sekum PGI, banyak pembangunan yang keliru yang dilakukan pemerintah ataupun pihak luar yang tidak sesuai dengan kondisi Sumba.
“Banyak pembangunan dari pemerintah ataupun pihak luar yang keliru tanpa melakukan dialog cultural atau kebudayaan apa yang sesuai dengan situasi dan kondiri untuk dikembangkan di sumba” kata Pdt. Jackvelyn.
Pdt. Jackvelyn Frits Manuputty berharap agar gereja-gereja yang ada di sumba harus mendorong untuk mengangkat spiritualis dari masyarakat Sumba.
“Saya berharap agar gereja-gereja yang ada di sumba harus mendorong untuk mengangkat spiritualis dari masyarakat sumba. Dengan cara bisa membangun dengan cara meraka sendiri dan dengan kekuatan yang ada pada mereka” harapnya.****

Baca Juga :   DANDIM 1629/SBD BAWAKAN MATERI TRC-PB DI KABUPATEN SBD

Penulis: Jumlitan Saulus Windi.-