MENGASAH JIWA BERPASTORAL KAUM MUDA DALAM MEMBANGUN GEREJA

Peran kaum muda dalam hidup menggereja sangat penting demi kemajuan dan perkembangan Gereja. Kaum muda perlu diajarkan, dilatih dan dilibatkan dalam karya pastoral Gereja lokal dan Gereja universal. Pelibatan kaum muda dalam karya pastoral sejak dini merupakan salah satu cara untuk “mengasah” jiwa berpastoral kaum muda. Sebagai kaum muda dalam Gereja, kami merasa bertanggung jawab atas kemajuan dan perkembangan Gereja. Rasa tanggung jawab itu mendorong kami untuk mendidik diri dan melatih diri serta membiarkan diri untuk dididik dan dilatih di lembaga pendidikan formal STKIP Weetebula, secara khusus Prodi Pendidikan Keagamaan Katolik. Prodi Pendidikan Keagamaan Katolik  memiliki tiga profil lulusan, yaitu: pertama, sebagai guru pendidikan agama Katolik; kedua, sebagai peneliti dalam bidang pendidikan dan pastoral; dan ketiga, sebagai praktisi pastoral. Dalam kaitan dengan profil lulusan sebagai praktisi pastoral, lulusan Prodi Pendidikan Keagamaan Katolik diharapkan mampu berperan dalam hidup menggereja seperti menjadi katekis, guru agama di komunitas umat, pembina umat, pendamping atau pembina anak-anak, remaja dan orang muda Katolik serta tugas-tugas lain dalam masyarkat.

Profil lulusan sebagai praktisi atau tenaga pastoral mendorong kami untuk terlibat dalam beberapa kegiatan bersama umat di stasi kami masing-masing maupun kelompok-kelompok kategorial yang ada di stasi kami seperti kelompok anak-anak, remaja dan muda-mudi. Dengan segala kekurangan dan kelemahan yang ada pada kami, kami berusaha untuk sebisa mungkin untuk terlibat dalam karya pastoral meski masih sangat sederhana dan tampak tak berarti. Kegiatan pastoral yang kami lakukan di paroki, khususnya di stasi-stasi  bertujuan untuk mencapai profil lulusan yang ketiga, yaitu menjadi praktisi pastoral. Kami sadar bahwa tidak mungkin menjadi praktisi pastoral tanpa membiasakan diri untuk terlibat dalam kegiatan-kegiatan pastoral seperti yang kami lakukan selama ini di stasi masing-masing. Kegiatan pastoral yang kami lakukan menjadi kesempatan bagi kami untuk melatih diri, khususnya mempertajam kepekaan kami terhadap situasi umat di stasi kami masing-masing. Namun, fokus pastoral kami adalah anak-anak, remaja dan orang muda Katolik. Jadi, sebenarnya kegiatan pastoral menjadi kesempatan yang istimewa bagi kami untuk mengasah jiwa berpastoral atau semangat berpastoral dalam diri kami. Tanpa keterlibatan semacam ini, kami tidak yakin kami akan memiliki jiwa pastoral sebagaimana yang diharapkan baik oleh umat maupun yang dituntut oleh Prodi Pendidikan Keagamaan Katolik. Tanpa keterlibatan yang nyata di stasi kami masing, masing,  kami mungkin akan menjadi sarjana pendidikan agama Katolik karena memang kami mengikuti kuliah formal pada program studi pendidikan keagamaan Katolik. Namun, jiwa berpastoral atau semangat berpastoral tidak mungkin tertanam dalam diri kami jika kami tidak dibiasakan atau tidak membiasakan diri untuk secara langsung terlibat kegiatan pastoral. Tanpa keterlibatan langsung dalam urusan pastoral, kami tidak mungkin peka terhadap persoalan pastoral. Kegiatan pastoral yang kami lakukan secara peerlahan-lahan mengasah jiwa berpastoral dalam diri kami  sebagai orang muda Katolik yang nantinya akan menjadi praktisi pastoral. Kami tidak mungkin menjadi tenaga pastoral yang bermutu jika kami tidak membiasakan diri untuk praktik berpastoral sejak masa pendidikan seperti ini.

Baca Juga :   Program SAKTI adalah Bentuk Pengabdian untuk Malaka

Sejujurnya, jiwa berpastoral kami pada awalnya masih tumpul, bahkan tidak tahu apa yang dimaksudkan dengan berpastoral. Sebagian besar dari kami tidak punya pengalaman terlibat dalam kegiatan-kegiatan pastoral, entah pastoral untuk anak-anak, remaja atau pun untuk orang muda Katolik.  Dari sisi pengetahuan, khususnya pengetahuan yang berkaitan dengan teologi dan pastoral, memang kami masih merasa kurang karena kami saat ini baru berada pada semester 4 dan semester 2. Artinya, kami belum memiliki banyak ilmu dan keterampilan untuk berpastoral. Namun, di tengah keterbatasan kami, baik yang berkaitan dengan pengetahuan maupun pengalaman berpastoral, kami merasa bahwa kegiatan berpastoral yang kami lakukan  telah membuat kami merasa bangga terhadap diri kami sendiri. Meski kami punya pengetahuan dan pengalaman masih sangat kurang, tetapi kami punya peran kecil dalam hidup menggereja. Kebanggaan kami semakin kuat ketika ada tanggapan yang baik dari anak-anak, remaja, dan OMK yang kami jumpai. Demikian pula, umat memberi apresiasi terhadap kegiatan yang kami lakukan. Perasaan bangga dan bahagia sungguh-sungguh kami alami. Dalam situasi yang demikian, rasa senang untuk berpastoral  muncul dalam diri kami. Demikian pula, kami makin peka terhadap persoalan-persoalan yang terkait  dengan kehidupan menggereja. Kami merasa bahwa jiwa berpastoral makin tajam dan kuat.

Selain profil lulusan Prodi Pendidikan Keagamaan Katolik, ada sebuah dokumen yang menarik dan sekaligus menjadi inspirasi bagi kami  untuk terlibat dalam kegiatan pastoral, yaitu CHRISTUS VIVIT (Kristus Hidup). Dokumen ini merupakan Seruan Apostolik Paus Fransiskus, yang dikeluarkan pada tanggal 25 Maret 2019. Seruan Apostolik CHRISTUS VIVIT dari Bapa Suci Fransiskus ditujukan kepada semua orang muda dan seluruh umat Allah.  Pada bagian awal dokumen tersebut, Bapa Paus  mengatakan: “ Kristus hidup. Dia adalah harapan kita dan kemudaan paling indah dari dunia ini. Apa pun yang disentuh oleh-Nya menjadi muda, menjadi baru, dipenuhi hidup. Maka, kata-kata pertama yang ingin saya sampaikan kepada setiap orang muda Kristiani adalah: Dia hidup dan ingin agar engkau hidup! Sebagai orang muda Katolik, perkataan Bapa Paus ditujukan juga kepada kami: “Dia hidup dan ingin agar engkau hidup!” 

Baca Juga :   “Merasul” Ala Generasi Z

Sebagai orang yang masih muda  serta kurang pengetahuan dan pengalaman, kami merasa cemas, gugup, tidak percaya diri, bahkan takut ketika melakukan kegiatan pastoral. Ada satu bagian dokumen yang berjudul “Apa yang dikatakan Sabda Tuhan Tentang Orang Muda”. Pada bagian ini Bapa Paus mengungkapkan kekayaan Kitab Suci, yang beberapa kali berbicara tentang orang muda dan bagaimana Tuhan pergi menjumpai mereka. Di masa ketika orang muda kurang diperhitungkan, beberapa teks menunjukkan bahwa Allah memandang dengan cara berbeda. Sebagai contoh, kita lihat bahwa Yusuf adalah yang paling kecil dalam keluarga (bdk Kej 37:2-3). Namun Allah menunjukkan kepadanya hal-hal besar dalam mimpi dan dia mengungguli saudara-saudaranya yang lain dalam tugas-tugas penting ketika berumur kira-kira 20 tahun (bdk Kej 37-47). Dalam diri Gideon kita mengenal ketulusan orang muda, yang tidak memiliki kebiasaan menutup-nutupi kenyataan. Ketika diberi tahu bahwa Tuhan ada bersamanya, ia menjawab: “Ah tuanku, jika Tuhan menyertai kami, mengapa semuanya ini menimpa kami?” (Hak 6:13). Namun, Allah tidak gusar pada keluhan itu dan melanjutkan dengan menyuruhnya: “Pergilah dengan kekuatanmu ini dan selamatkanlah orang Israel” (Hak 6:14).Samuel adalah seorang pemuda yang kurang percaya diri, namun Tuhan berbicara dengannya. Berkat nasihat dari seorang dewasa, ia membuka hati untuk mendengarkan panggilan Allah: “Berbicaralah Tuhan, hambamu ini mendengar” (1Sam 3:9,10). Dengan demikian, ia menjadi nabi besar yang turun tangan pada saat-saat genting bagi tanah airnya. Demikian juga, raja Saul adalah seorang pemuda saat Tuhan memanggilnya untuk memenuhi tugas perutusannya (bdk 1 Sam 9:2). Raja Daud dipilih ketika masih sebagai pemuda. Ketika Nabi Samuell sedang mencari raja Israel masa depan, seorang laki-laki menawarkan anak-anaknya yang lebih besar dan terpelajar sebagai calon. Namun sang Nabi berkata bahwa yang terpilih adalah Daud yang muda, yang sedang menggembalakan kawanan domba (bdk 1 Sam 16:6-13), sebab “manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi Tuhan melihat hati” (ay. 7). Demikian pula Salomo, ketika harus menggantikan ayahnya, ia, merasa bingung dan berkata kepada Allah: “Aku masih sangat muda dan belum ber-pengalaman” (1Raj 3:7). Namun, keberanian kemudaan mendorongnya untuk meminta kebijaksanaan kepada Allah dan membaktikan diri bagi perutusan-Nya. Hal yang hampir sama terjadi pada nabi Yeremia, yang dipanggil untuk membangkitkan umatnya tatkala ia masih sangat muda. Dalam ketakutannya ia berkata: “Ah Tuhan Allah! Sesungguhnya aku tidak pandai berbicara, sebab aku ini masih muda” (Yer 1:6). Namun, Tuhan minta untuk tidak ber-kata demikian (bdk Yer 1:7) dan mengatakan: “Janganlah takut kepada mereka, sebab Aku menyertai engkau untuk melepaskan engkau” (Yer 1:8).

Baca Juga :   “Merasul” Ala Generasi Z

Demikian halnya dengan  kisah mengenai para wanita muda. Seorang gadis Ibrani cilik yang pada waktu itu dalam pelayanan militer asing Naaman, ikut campur tangan dengan iman untuk membantunya sembuh dari penyakitnya (bdk 2Raj 5:2-6). Ruth yang masih muda adalah contoh kemurahan hati dengan tetap tinggal bersama ibu mertuanya yang jatuh dalam kemalangan (bdkRut 1:1-18) dan juga menunjukkan keberaniannya untuk melangkah maju dalam hidup (bdk Rut 4:1-17). Dalam Perjanjian Baru, ada salah satu perumpamaan Yesus (bdk Luk 15:11-32) menceritakan bahwa anak laki-laki “yang lebih muda” ingin pergi dari rumah orangtuanya menuju sebuah negara yang jauh (ay. 12-13). Akan tetapi mimpinya tentang kemandirian berubah menjadi kebebasan dan pesta pora (ay. 13) dan dia mengalami kerasnya kesendirian dan kemiskinan (ay. 14-16). Namun, dia dapat mempertimbangkannya kembali untuk memulai lagi (bdk ay. 17-19) dan memutuskan untuk bangkit (ay. 20). Yesus memuji orang muda berdosa yang kembali ke jalan yang baik, lebih dari-pada orang yang merasa diri beriman, namun tidak hidup dalam semangat kasih dan belas kasihan.

Dalam sejarah Gereja, banyak orang kudus muda seperti St. Sebastianus, St. Fransiskus dari Asisi, Sta. Joana d’Arc, Beato Andre Phu Yen, Sta. Kateri Tekakwitha, St. Dominikus Savio, Sta. Theresia dari Kanak-kanak Yesus, Beato Ceferino Namuncurá, Beato Isidorus Bakanja,dan beberapa orang kudus muda lainnya. Kami yakin bahwa Tuhan yang memilih dan mengutus orang-orang muda pada masa Pernjanjian Lama,  masa Perjanjian Baru dan dalam sejarah Gereja, juga menggerakan kami dan   memampukan kami dalam melaksanakan kegiatan pastoral. Bapa Paus juga mengajak orang muda: “Marilah kita ingat bahwa Yesus tidak menyukai kenyataan bahwa orang dewasa memandang rendah orang yang lebih muda atau memerintah mereka dengan sewenang-wenang. Sebaliknya, Dia meminta: “yang terbesar di antara kamu hendaklah menjadi sebagai yang paling muda” (Luk 22:26). Bagi-Nya, usia tidak menentukan hak istimewa, dan seseorang yang berumur lebih muda tidak berarti bahwa ia kurang bernilai atau bahwa ia memiiki martabat yang lebih rendah”. Seorang yang berumur lebih muda tidak berarti bahwa ia kurang bernilai atau bahwa ia memiliki martabat yang lebih rendah. Pernyataan inilah yang telah menjadi inspirasi dan motivasi bagi kami untuk “mengasah” jiwa berpastoral kami dalam membangun Gereja melalui kegiatan pastoral sederhana di stasi kami masing-masing.

Oleh: Athanasius Bili, Faustina Bulang & Efry Muda. (Penulis adalah mahasiswa Prodi Pendidikan Keagamaan Katolik STKIP Weetebula).-

Paling Dicari: