MENDIDIK DENGAN CINTA, JALAN MENUJU MUTU PENDIDIKAN

Rm. Mikael Sene, S.Fil., M.Pd.

Pendidikan merupakan langkah strategis untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Melalui pendidikan potensi yang ada pada setiap individu dapat dikembangkan. Substansi dari pendidikan termaktub dalam etimologi pendidikan. Pendidikan berasal dari bahasa Latin dari kata Educare dan educere (Andalas, 2007: 14-15).Educare mengandung dua makna konotatif yaitu pertama melatih atau menjinakkan (seperti dalam konteks manusia melatih hewan-hewan yang liar menjadi semakin jinak sehingga bisa diternakkan), kedua menyuburkan (membuat tanah itu lebih menghasilkan banyak buah karena tanahnya telah digarap dan diolah). Jadi, pendidikan merupakan sebuah proses yang membantu menumbuhkan, mengembangkan, mendewasakan, membuat yang tidak tertata atau liar menjadi semakin tertata, semacam proses penciptaan sebuah kultur atau tata keteraturan dalam diri maupun dalam diri orang lain. Kata educere merupakan gabungan dari preposisi e (yang artinya keluar dari) dan kata kerja ducere (memimpin). Oleh karena itu, educere bisa berarti suatu kegiatan untuk menarik keluar atau membawa keluar. Dalam arti ini, pendidikan bisa berarti sebuah proses pembimbingan di mana terdapat dua relasi yang sifatnya vertikal, antara mereka yang memimpin (dux) dan mereka yang dipimpin. Relasi keduanya terarah pada satu tujuan tertentu. Kata educare pertama-tama mengacu pada aspek organis, seperti penjinakan, penjagaan, pendampingan, pemeliharaan, nutrisi, dan kesehatan. Kata educere lebih mengacu pada aspek yang lebih interior, seperti imajinasi, observasi, kecerdasan, akal budi, cara berpikir, sikap kritis, emosionalitas, ekspresionalitas, dan operasionalitas.

Berdasarkan makna etimologis pendidikan, dapat diafirmasikan beberapa poin reflektif untuk  bagaimana kita mengimplentasikan praktik pendidikan agar lebih efektif dan efisien untuk mencapai out put pendidikan yang lebih berkualitas.

Pertama  kata educare yang artinya menjinakan, maka proses pendidikan dilaksanakan sebagaimana seorang yang ingin menjinakan hewan piaraannya, dibutuhkan keramahan, kelembutan, kehangatan dan sentuhan yang mendamaikan. Pendekatan pedagogik yang hospitality dan fraternity adalah sebuh keniscayaan. Pendekatan kekerasan merupakan antagonis dari hakikat pendidikan itu sendiri. Karena dengan kekerasan akan menyebabkan ketakutan, dan membuat anak menutup diri bahkan menjauh. Menjauh bukan secara fisik tetapi secara psikologis, yaitu menurunnya mood , antensi, respek dan antusiamenya untuk belajar. Maka relasi yang perlu dibangun antara pendidik dengan peseta didik adalah relasi horisontal, relasih kasih dan familiaritas. Perlu membangun rasa percaya dan kenyamanan pada peserta didik, sehingga mereka senang untuk belajar dan terbangun persepsinya bahwa belajar bukan merupakan sesuatu yang menakutkan, memberatkan tetapi sebagai suatu yang menyenangkan, menjadi kebutuhan dan kerinduan.

Baca Juga :   Moderasi Belajar dalam Pendidikan

Kedua, Penjinakan hanya akan terjadi jika ada intensitas perjumpaan. Seekor hewan peliharaan jika jarang bertemu dengan tuannya, tentu dia tidak akan mengenal tuannya, dia merasa asing dan bahkan merasa terancam. Demikian juga dalam relasi perjumpaan antar pendidik dengan peserta didik, jika pendidik jarang hadir secara intes di sekolah dan di kelas, maka peserta didiknya akan merasa jauh, ada jarak dan kealpaan kognitif, afeksi dan psikomotor. Kehadiran adalah spiritulitas transformasi. Kita hanya bisa mengubah orang kalau kita turun dan dekat dengan orang yang ingin diubah. Mengubah tidak cukup dengan umbaran retorika dan pengarahan massal saat upacara. Mengubah tidak cukup dengan memberikan justifikasi tentang kekurangan dan kelemahan peserta didik, tetapi transformasi akan lebih efektif dan efisien jika pendididik secara sadar, terencana dan intensif mengajar, mendidik dan melatih peserta didik dengan sikap batin yang empati dan penuh kasih. Jika pendidik hanya hadir secara formalitas dan administratif tanpa ada aktivitas edukatif, maka tidak akan mungkin terjadi optimaliasasi pengembangan diri peserta didik dari taraf yang potensial ke taraf yang maksimal.

ketiga, Educare berarti menyuburkan. Peran seorang pendidik ibarat seorang petani yang menyuburkan tanaman yang ditanamnya, ia membersihkan rumputnya, menggemburkan tanah di sekelilng pohon, memberinya pupuk dan menyirami air, sehingga tanaman yang ditanam bisa bertumbuh dengan subur dan menghasikan buah yang berlimpah. Bagi pendidik, peserta didik adalah tanamannya, maka tugas pendidik adalah menyuburkan peserta didik agar mereka mengembangkan potensi-potensi yang ada pada diri mereka. Pendidik membantu peserta didiknya Keluar dari keterbatasan fisik kodrati yang dimilikinya, mengembangkan imajinasi, kecerdasan,  cara berpikir, sikap kritis, emosionalitas, ekspresionalitas, dan operasionalitasnya.

Baca Juga :   PENGELOLAAN SEKOLAH HARUS BERBASIS KEBUTUHAN PESERTA DIDIK

Keempat , Menjinakan, menyuburkan, dan membawa keluar adalah sebuah kata kerja, atau sebuah proses, maka yang paling penting dari pendidikan adalah  proses. Proses merupakan suatu kegiatan mengubah input menjadi out put. Perubahan yang sejati adalah jika out put  sungguh menjadi berbeda dari input , ibarat “beras yang telah berubah menjadi roti”. Demikianlah perubahan dalam diri peserta didik apabila pada saat masuk sekolah ia tidak bisa calistung, minim kompetensi, dan karakter yang belum baik, tetapi setelah melalui proses pendidikan peserta didik menjadi bisa calistung dan memiliki kompetensi baik kognitif, afeksi maupun psikomotoriknya. Tetapi jika di suatu sekolah proses pendidikan kurang berjalan dengan baik, maka niscaya out put dari pendidikan itu akan kurang baik, atau kurang berkualitas, baik dari segi akademik maupun non akademik. Pada zaman sekarang kelulusan seratus persen bukan lagi menjadi indikator mutu, mutu sudah diukur dengan out come atau daya guna. Karena persentase dan nilai tidak menjamin seorang memiliki kopetensi. Apalagi objektifitas pemberian nilai sungguh menjadi keraguan publik. Nilai tidak menolong dirinya dan orang lain, hanya pengetahuan yang berguna bagi diri dan sesama. Maka benar kata pepata latin, non scolae set dicimus vitae ( belajar bukan untuk sekolah, tetapi belajar untuk hidup). Ini yang harus menjadi spirit dalam mendidik.

Kelima, Proses pendidikan harus efektif dan efisien. Proses yang efektif akan mengahasilkan hasil yang efektif. Proses yang efektif yaitu to do right things (hanya pekerjan yang betul yang dikerjakan). Efektif hasil yaitu derajad pencapaian  tujuan. Proses yang efisien yaitu to do things right (mengerjakan dengan cara yang betul). Efisien hasil yaitu optimasi penggunaan sumber daya. Jika yang dikerjakan pendidik bukannya mengajar tetapi mengerjakan urusan lain, maka  proses tidak efektif, maka derajat pencapain tujuan pun rendah. Jika urusan membaca dan menulis tetap menjadi problem sampai sekolah menengah bahkan perguruan tinggi, berarti hasil pendidikan kita tidak efektif dan efisien. Kita masih memikirkan apa yang seharusnya sudah selesai di tingkat dasar. Kita tidak efisien dalam segala hal. Rumus efisien adalah yang termudah caranya, termurah biayanya, tersingkat waktunya, teringan bebannya, dan terpendek jaraknya, (Sugiyono, 2010).

Baca Juga :   MEMANFAATKAN POTENSI YANG DIMILIKI DALAM MEMBANGUN DAERAH

Keenam, Aktus menjinakan, menyuburkan, membawa keluar yang adalah sebuah pekerjaan mulia ini harus dijalani dengan rasa cinta. Cinta adalah rasa kodrati yang memiliki energi supranatural yang mampu mengoptimalkan segala energi diri untuk memberikan yang terbaik kepada yang dicintai. Keberhasilan hidup pada semua sektor adalah keberhasilan cinta. Petani akan menuai panenan yang melimpah karena ia mencintai kebun dan tanamannya, para peternak menuai hasil dari ternaknya karena ia mencintai piaraannya dengan memperhatikan makan, minum, dan kebersiha kandangnya, pedagang menjadi pedagang yang sukes karena ia mencintai dan menekuni pekerjaannya,  demikian juga para pendidik, akan menuai lulusan yang berkualitas jika ia mencintai profesinya, mencintai peserta didiknya. Pendidik perlu memiliki rasa kasih kepada peserta didik, seperti perasaannya kepada anak-anaknya sendiri. Selalu kuatir kalau mereka belum tahu membaca dan menulis, pendidiknya cemas kalau ia terlambat ke sekolah, pendidikannya terharu kalau melihat peserta didiknya berprestasi.   Love guided to life (cinta terarah pada kehidupan).

Nah, bagaimana dengan proses pendidikan kita di Sumba, NTT dan di Indonesia? Apakah para pendidik sudah sungguh pahami hakikat pendidikan? Apakah pemerintah dan yayasan sungguh serius mengembangkan sumber daya pendidik? Apakah pendidik sudah mencintai profesi dan peserta didiknya? Ini menjadi sebuah pertanyan reflektif yang perlu dijawab oleh masing-masing pelaku pendidikan. Mari kita jujur pada diri kita sendiri.

Jika kita bermimpi untuk meningkatkan mutu pendidikan maka langkah sederhana yang perlu segera dimulai adalah memahami hakikat pendidikan, dan mencitai profesi serta peserta didik, Juga mulailah disiplin. Kini kita hidup di era modern, dan karena corona ke depan kita akan masuk di new normal life tentu ada sekian banyak perubahan dan tuntutan kehidupan yang belum kita ketahui, maka mari kita segera berbenah dalam mengelolah pendidikan dan menjalankan profesi kita. Pendidikan bukan segala-galanya, tetapi segala-galanya terjadi karena pendidikan. Meminjam kata Nelson Mandela Education is the most powerful weapon which you can use to change the world ( Pendidikan adalah senjata yang paling ampuh yang bisa anda gunakan untuk mengubah dunia. Mari kita gunakan pendidikan untuk mengubah Sumba dan dunia.

Refleksi: Oleh Rm.  Mikael Sene, S.Fil.,M.Pd.

Leave a Reply

Your email address will not be published.