KEMATIAN YANG BERHARGA DI MATA TUHAN

Karuni-SJ…………….. Wafatnya Alm. Drs. Benyamin K. Tako pada Selasa, 20 November 2018 yang lalu di Denpasar, tidak saja menjadi duka yang mendalam bagi keluarga yang ditinggalkan, tetapi juga menjadi duka yang amat sangat mendalam bagi Gereja Kristen Sumba (GKS) baik itu GKS Waikabubak, GKS Mata dan GKS Karuni secara khusus bahkan se-daratan Sumba pada umumnya.

Demikian diungkapkan oleh Pdt. Theopilus Mete, S.Th pada Kamis malam, 22 November 2018 di rumah duka Karuni Kecamatan Loura Sumba Barat Daya (SBD) saat ibadah penghiburan yang dipimpin oleh BPMJ GKS Waikabubak. Hal itu didasari karena pada saat almarhum mengalami kecelakaan beberapa waktu lalu, dirinya hendak mengantar bahan bangunan untuk pembangunan gedung gereja Pos PI GKS Karuni. Almarhum semasa hidupnya lebih banyak mendedikasikan hidupnya untuk urusan-urusan gerejawi baik di Sumba Barat maupun SBD. Beberapa pembangunan  gedung gereja diantaranya GKS Mata yang megah merupakan campur tangan almarhum dalam mendatangkan banyak donatur untuk pembangunan gedung gereja tersebut.

“Orang yang mati lebih bahagia dari pada yang hidup saat ini, hari kematian lebih baik daripada hari kelahiran, apabila kita mati didalam Tuhan, karena hanya Tuhan Yesus yang bisa mengalahkan maut, sepintar-pintarnya manusia menciptakan teknologi tetapi tidak akan pernah mampu mengalahkan kematian, karena yang punya kehidupan ini adalah Yesus Kristus, maka lebih berbahagia kita mati didalam Tuhan kita Yesus Kristus” ungkapnya.

Lebih lanjut Pdt. Theo menegaskan dalam khotbah penghiburannya bahwa kehidupan ini harus berkahir pada kematian, lalu yang menjadi pertanyaan untak apa kita hidup? Manusia pada dasarnya membutuhkan kebahagiaan yang tidak pernah bisa dipenuhinya dalam kehidupan, manusia merindukan ketenangan yang tidak pernah seutuhnya didapatkan, manusia mencoba berjuang namun termakan waktu dan ujungnya adalah kematian, itulah realita kehidupan.

Baca Juga :   Staf Ahli Victor Umbu Sulung Pimpin Rakor Penertiban Pasar

Ibadah penghiburan ini sendiri selain dihadiri oleh keluarga besar GKS Waikabubak, juga dihadiri oleh BPMJ GKS Mata, GKS Karuni, mantan bupati Sumba Tengah yang juga tokoh masyarakat Drs. Umbu Bintang, Aci Sien Wadoe (cece Bumi Indah), tokoh masyarakat Loura dan keluarga serta handai taulan. Rombongan BPMJ GKS Mata yang dipimpin oleh Pdt. Irene Takandjandji, S.Th tampak khusuk mengiktui ibadah penguburan dan berbaur bersama keluarga yang berduka.

BPMJ GKS Waikabubak yang dihubungi media usai kebaktian menceritakan kesan-kesan almarhum semasa menjadi anggota jemaat GKS Waikabubak adalah seorang tokoh yang selalu memberi nasihat dan selalu menindak lanjuti nasihat-nasihatnya, memberi masukan tetapi langsung memberi solusinya.

“Beliau itu orangnya concern sekali dalam pelayanan,  kalau diberi tanggungjawab, ia tidak main-main dengan pekerjaan Tuhan. Itulah yang mengantar beliau, sampai dengan hari ini juga kami belum melepasnya dari GKS Waikabubak sebagai anggota jemaat. Beberapa bulan lalu almarhum berjanji pada kami untuk ketemu ibadah dan kami menunggunya, dan itulah pertemuan terakhir kami. Kejadian kemarin saya percaya itu cara Tuhan untuk mempermuliakan beliau, sehingga mati dengan cara ditabrak pada mengurus bahan bangunan untuk pembangunan gereja” tutur Pdt. Theo sedih.

Senada dengan pendapat Umbu Bintang beberapa waktu lalu, Pdt. Theo juga sangat setuju bahwa  almarhum bukan saja tokoh SBD, melainkan juga tokoh masyarakat Sumba Barat dan Sumba Tengah, bahkan tokoh GKS. Karena almarhum selalu mejadi pemikir-pemikir GKS yang sangat luar biasa, dan yang menjadi kelebihan almarhum jika bicara tentang iman, ia tidak pernah mau berkompromi walaupun akan menghadapi banyak pertanyaan, tantangan maupun hal-hal lain.

“Ini merupakan satu teladan iman yang sangat luar biasa, dan biasanya orang-orang yang begini, dimana saja akan selalu jadi berkat, sehingga kalau Bapak Umbu Bintang almarhum adalah tokoh di 3 kabupaten, saya sangat setuju” katanya.

Baca Juga :   Ketua BPD Polisikan Plt. Desa Wainyapu Atas Dugaan Pemalsuan Tanda Tangan

Ditempat terpisah Pdt. Nanda. M. Weru, S.Th kepada media mengatakan dirinya mengenal almarhum sebagai orang tegas dan selalu mau memperjuangkan ide-ide positif untuk gereja dan iman. Almarhum sangat aktif dalam pelayanan waluapun dirinya sibuk dalam tugas pekerjaannya.

“Bapak Min walaupun sangat sibuk di Pemerintah, DPRD tetapi dirinya selalu menyediakan waktu untuk pekerjaan Tuhan. Dia mencintai Tuhan dan sangat care dengan gereja serta blak-blakan untuk urusan gereja” ujar Pdt. Nanda pada media.

Hal senada juga disampaikan oleh Pdt. Apliyana Moto, S.Th   bahwa almarhum selalu memberikan kritik yang membangun untuk kinerja pelayanan gereja, orangnya tegas dan juga humoris yang sangat mengesankan bagi dirinya.

Ketiga Pendeta dari GKS Waikabubak ini berharap agar keluarga yang ditinggalkan tidak larut dalam duka karena Bapak Min sudah bahagia di surga, penghiburan yang selalu baru akan diberikan oleh Tuhan bagi mama dan anak-anak, manantu dan cucu yang ditinggalkan alamarhum.

“Satu hal yang penting adalah teladan iman menjadi motivasi untuk terus melanjutkan sejarah hidup di dunia ini” ujar Pdt. Apliyana.

Dalam himbauannya Pdt. Theo juga melanjutkan pesan almarhum agar dalam hidup ini jangan takut, tetapi dalam hidup kita harus takut Tuhan.

“Bagi keluarga kami sampaikan turut berduka cita, tetapi bagi almarhum bapak Benyamin Tako kami ucapkan turut bersuka cita karena sudah berbahagia bersama kebahagiaan Bapak di Sorga” tutupnya. (OC$),-