Gadget & Proses Pembelajaran Peserta Didik

Di era globalisasi ini kehidupan masyarakat sudah semakin canggih. Hal ini merupakan akibat dari perkembangan teknologi yang sangat pesat. Perkembangan teknologi ini ditandai dengan munculnya berbagai teknologi modern dan canggih yang ada seperti gadget, smartphone, tablet, PC dan lain-lain. Menanggapi kondisi ini, mau tidak mau masyarakat harus bisa mengikuti arus perubahan karena kemajuan dan tuntutan hidup. Sebagai contoh, saat ini hampir semua orang mempunyai gadget dan smartphone. Penggunaan gadget dan smartphone saat ini tidak mengenal batas usia. Hampir semua kalangan usia sudah mempunyai gadget. Kepemilikan terhadap gadget rupanya sudah menjadi sebuah keharusan dan tidak bisa tidak dalam kehidupan setiap individu. Tak terkecuali kalangan peserta didik. Persoalannya adalah apakah kepemilikan  dapat membantu proses pembelajaran? Pembelajaran dalam konteks ini bukan hanya semata-mata berkaitan dengan kegiatan di sekolah.

Yanto Umbu, M.Pd

Seiring dengan tuntutan perkembangan teknologi yang semakin canggih, di satu sisi manusia dituntut untuk mengikuti ritme perkembangan yang ada. Kepemilikan terhadap gadget dibutuhkan perhatian yang cukup serius dan khusus. Mengapa tidak? Banyak pengguna gadget entah kalangan anak-anak, remaja, dewasa dan manula pun belum tentu dengan bijak dan cerdas menggunakan gadget. Bahkan ditemukan banyak individu yang menghadapi masalah hanya karena kurang bijak dalam menggunakan gadget. Selain masalah sosial yang timbul, di satu sisi perkembangan teknologi juga turut mempengaruhi dunia pendidikan. Perubahan kurikulum mempunyai pengaruh besar terhadap penggunaan dan kepemilikan teknologi informasi. Pertanyaannya adalah sudah bijak dan bertanggungjawabkah setiap peserta diidik dalam menggunakan? Sejauh mana perhatian dari pihak sekolah, orang tua dan masyarakat terhadap penggunaan dalam proses pembelajaran kalangan peserta didik?

Perkembangan teknologi yang sangat pesat ini mempengaruhi dunia pendidikan di Indonesia. Pengaruh ini dapat dilihat dengan munculnya berbagai sistem pembelajaran berbasis media (media-based learning) yang menggunakan teknologi dalam proses pembelajarannya. Terutama di era pandemic Covid 19 ini. Anak-anak SD sudah memanfaatkan teknologi sebagai media belajar. Kita sebagai manusia tidak akan mampu menolak perubahan teknologi, tapi kita cukup peka dan mampu membatasi efek-efek negatif dari perkembangan teknologi yang sangat pesat, terutama di dalamnya adalah anak-anak.

Tuntutan Membaca pada Siswa Sekolah Dasar

Tahun 2014 di Indonesia sudah digulirkan kurikulum terbaru, yaitu kurikulum 2013. Dalam kurikulum 2013, siswa kelas SD dituntut untuk langsung bisa membaca dalam proses pembelajaran. Hal itu tentu saja menimbulkan beberapa problem, karena rata-rata siswa TK hanya diperkenalkan sebatas pada bentuk dan bunyi huruf, sehingga siswa SD tidak langsung dapat membaca dan mengikuti pelajaran secara cepat. Para tenaga pendidik di tingkat TK tidak diperkenankan memberi beban belajar kepada peserta didik yang banyak apalagi memberi tugas tambahan seperti PR. Kondisi demikian menuntut para orang tua mengajari dan mendampingi anak-anak mereka dengan lebih baik, terutama melatih mereka dalam keterampilan menulis dan membaca. Banyak orang tua yang mampu melakukan hal tersebut dengan baik. Namun tidak semua orang tua bisa melakukan hal demikian mengingat tingkat kesibukan mereka. Orang tua tidak mempunyai cukup banyak waktu untuk mengajari anak mereka. Sebagai solusi yang praktis dan dinilai efektif, para orang tua memilih memanfaatkan dan menggunakan aplikasi belajar membaca pada gadget untuk mengajari anak mereka. Orang tua tidak lagi repot. Anak bisa belajar secara mandiri dan di saat yang sama orang tua bisa tetap bekerja. Kebiasaan ini sebaiknya dihindari karena fungsi kontrol orang tua tidak akan jalan. Benar bahwa anak diajarkan untuk mandiri namun tidak harus betul-betul sendiri saat anak itu belajar. Hal ini dilakukan mengingat anak belum matang, belum bisa membedakan mana yang baik dan mana yang tidak baik. Kewajiban orang tua dalam mendidik anak hendaknya tetap dijalankan. Hal ini membantu anak untuk menginformasikan sekian banyak hal yang menunjang perkembangan pribadi anak tersebut secara utuh dan kolektif. Anak yang sangat tergantung pada gadget kepribadiannya akan sangat ditentukan juga oleh gadget. Cara berpikir anak akan sangat diperngaruhi dengan segala informasi yang diterima langsung melalui tanpa dicerna terlebih dahulu. Anak bisa menjadi pemberontak artinya tidak dengan sangat mudah menerima segala bentuk bimbingan dan masukkan dari orang yang mengajarinya (https://www.ibudanbalita.com/artikel/).

Efektivitas Gadget Pada Proses Belajar Anak

Baca Juga :   YATUTIM Gandeng Gramedia Demi Naikan Mutu dan Kualitas Pendidikan

Penggunaan gadget untuk anak dapat mempengaruhi perkembangan kognitif anak. Karena anak, terutama pada pendidikan anak usia dini dan anak SD kelas rendah, akan belajar dengan baik apabila mereka memanipulasi obyek yang dipelajari. Misalnya dengan melihat, merasakan, mencium, mendengar dan sebagainya. Pendekatan pembelajaran discovery (belajar menemukan) atau pendekatan pembelajaran induktif lainnya akan  lebih efektif dalam proses pembelajaran anak. Selain gangguan pada perkembangan kognitif, penggunaan juga dapat mempengaruhi kemampuan berbahasa anak yaitu dengan terbatasnya kosakata-kosa kata baru karena kurangnya interaksi dengan orang lain secara langsung. Hal ini juga diperkuat dengan pendapat Jean Piaget yang mengemukakan tiga prinsip utama pembelajaran yaitu (1) belajar aktif, (2) belajar lewat interaksi sosial, dan (3) belajar lewat pengalaman sendiri (Rifa’i, 2012). Ketiga hal tersebut sangat bertolak belakang dengan konsep belajar menggunakan gadget yang saat ini marak digunakan. Penggunaan gadget yang kurang tepat juga dapat mempengaruhi sikap (attitude) anak. Anak tidak akan memperoleh kondisi mental yang mempengaruhi pilihan untuk bertindak. Hal ini disebabkan karena anak hanya belajar satu arah, tanpa adanya umpan balik sehingga membuat anak kurang mandiri dalam pengambilan keputusan. Anak akan menjadi lebih pasif karena minimnya interaksi dengan dunia sekitarnya. Karena melalui interaksi, maka karakter dan perkembangan kepribadian anak menjadi lebih baik. Karena secara alami, anak lebih cenderung mengingat dan mengerti hal-hal yang dilihat langsung ketimbang apa yang didengar dan dilihat (audio dan video). Kita tahu bahwa Hasrat bermain seorang anak cukup kuat. Kita tidak bisa menyalahkan dan terus membatassi Hasrat tersebut. Namun yang menjadi soal adalah Ketika anak mengoperasi maka alhasil anak lebih mencari aplikasi game. Apalagi Ketika anak tersebut sudah mulai bosan dengan kegiatannya belajarnya.

Baca Juga :   SD Inpres Liango Malagho Yang Terlupakan

Dampak positif dari penggunaan di kalangan peserta didik sebagai sarana pembelajaran sekunder adalah Pertama, dapat membantu perkembangan fungsi adaptif seorang anak. Fungsi adaptif adalah kemampuan seseorang untuk bisa menyesuaikan diri dengan keadaan lingkungan sekitar dan perkembangan zaman. Jika perkembangan zaman sekarang muncul, maka anak pun harus tahu cara menggunakannya. Kedua, dapat menambah pengetahuan. Penggunaan yang berteknologi canggih dapat membantu anak-anak dengan mudah dan cepat untuk mendapatkan informasi mengenai tugas mereka di sekolah.  juga dapat memperluas jaringan persahabatan.  dapat memperluas jaringan persahabatan karena dapat dengan mudah dan cepat bergabung ke sosial media. Apalagi sekarang sosial media sudah sangat menjamur seperti Twitter, Facebook, Whatsapp, Instagram dan lain-lain.  merupakan salah satu alat yang memiliki tekonologi yang canggih. Jadi semua orang dapat dengan mudah berkomunikasi dengan orang lain dari seluruh penjuru dunia. Selain keunggulan di atas  dapat membangun kreatifitas anak. Anak dapat berkreasi dengan membuat karya-karya dengan menggunakan aplikasi-aplikasi yang ada dalam gadget tersebut.

Selain memiliki dampak positif, gadget juga memiliki beberapa dampak negatif. Dampak negatif yang pertama adalah gadget dapat mengganggu kesehatan. Gadget dapat mengaganggu kesehatan manusia karena efek radiasi dari gadget tersebut. Terutama pada anak di bawah usia 4 tahun karena di usia ini, neuron saraf seorang anak sedang berkembang dan fungsi radiasi di gadget bisa sedikit menghambat pertumbuhan neuron tersebut. Kedua, adalah anak dapat mengalami penurunan konsentrasi.  memilki fitur-fitur yang canggih seperti kamera, video, games dan lain-lain. Fitur itu semua dapat mengganggu proses pembelajaran di sekolah. Misalnya ketika guru menerangkan pelajaran di depan. Selain itu dapat mempengaruhi perilaku anak. Dengan kecanggihan yang diberikan oleh. Maka anak-anak dapat dengan mudah mendownload video-video yang seharusnya bukan tontonannya. Di sinilah diperlukan peran orang tua untuk mengawasi tingkah anak dalam menggunakan (Indri, 2013: indrinovii.blogspot.com, 2013).

Dampak-dampak negaif yang lainnya adalah gadget rawan terhadap tindak kejahatan. Setiap orang pasti ada yang memiliki sifat update di mana saja. Jadi, jika ada orang yang ingin berbuat kejahatan dapat dengan mudah mencarinya dari hasil update-nya yang boleh dibilang terlalu sering. Gadget juga dapat membuat anak cepat puas dengan pengetahuan yang diperolehnya sehingga menganggap bahwa apa yang dibacanya diinternet adalah pengetahuan yang terlengkap dan final. Peserta didik juga malas menulis dan membaca (manual). Peserta didik hanya akan mengandalkan fitur-fitur yang memang praktis untuk menulis dan membaca.  membawa banyak kemudahan, sehingga generasi mendatang akan berpotensi untuk menjadi generasi yang tidak tahan dengan kesulitan.  juga akan mempengaruhi kemampuan menganalisa permasalahan. Efek negatif gadget yang terkhir adalah penurunan dalam kemampuan bersosialisasi eksternal dan internal. Seorang anak akan lebih menyukai menyendiri bermain dengan gadget-nya dari pada bersosialisasi dengan teman sebayanya. Dampak negatif lain yang muncul akibat penggunaan adalah munculnya kepribadian semu dari setiap pengguna media sosial. Muncul kecenderungan bahwa apa yang ditampilkan oleh setiap orang pada saat mengupload status bisa berdampak pada munculnya kepribadian yang tidak otentik atau semu. Orang menampilkan sesuatu tidak sesuai dengan realitas yang sesungguhnya (Indri 2013: indriinovii.blogspot.com, 2013).

Baca Juga :   Natal YATUTIM Berlangsung Meriah

Penggunaan gadget dalam membantu proses belajar anak tidak efektif, jika tanpa diimbangi peran orang tua, terutama dalam pengawasan. Para orang tua harus membatasi pemakaian gadget. Berikan waktu-waktu tertentu untuk anak-anak memainkan gadget. Kemudian orang tua harus selalu mengontrol isi dan data-data di dalam gadget. Orang tua perlu mengontrol data-data di dalam gadget anak. Minimal sekali dalam seminggu atau mengeceknya diam-diam. Selain itu, orang tua juga perlu memberikan hukuman pada anak apabila anak telah terbukti melakukan kesalahan. Misalnya dengan menyita gadget-nya.

Teknologi gadget jelas memberi pengaruh terhadap perkembangan anak baik secara fisik, kognitif, emosi, sosial dan motorik. Terlalu sering anak berinteraksi dengan gadget dan juga dunia maya akan mempengaruhi daya pikir anak dan anak juga akan merasa asing dengan lingkungan sekitar karena kurangnya interaksi sosial. Namun, kemajuan teknologi juga dapat membantu daya kreatifitas anak, jika pemanfaatannya diimbangi dengan interaksi anak dengan lingkungan sekitarnya.  Orang tua juga harus selalu mengontrol penggunaan gadget anak. Anak tidak boleh diberikan kebebasan yang berlebihan sehingga tidak mengganggu proses belajar anak di sekolah. Penggunaan gadget mesti disadari oleh setiap orang tua dan setiap elemen yang berperan dalam tumbuh kembang anak sehingga dapat membantu anak menjadi pribadi yang siap dan matang. Penggunaan gadget secara bijak mampu membentuk kepribadian seorang anak dengan sangat baik. Mari berlaku bijak dalam menggunakan gadget terutama untuk membantu perkembangan pribadi anak didik. ***),-

Leave a Reply

Your email address will not be published.