BERPERILAKU PROSOSIAL (Jalan Bijak Hadapi Virus Corona)

Akhir-akhir ini muncul tagar “IndonesiaTerserah ” sebagaimana diberitakan oleh berbagai jenis media.  Tagar “IndonesiaTerserah ” merupakan ungkapan perasaan para  tenaga medis yang kecewa, marah dan putus asa atas kebijakan pemerintah yang mulai melonggarkan aturan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dan ketidakpatuhan sebagian masyarakat terhadap protokol penanganan wabah virus corona yang telah ditetapkan. Ketidakpatuhan sebagian warga masyarakat terhadap protokol penanganan virus corona tampak pada perilaku berkerumun, tidak menggunakan masker,  dan tidak menjaga jarak. Ketika  mereka sedang mempertaruhkan nyawa mereka di garda terdepan penanganan pasien corona, pada saat yang sama mereka menyaksikan sebagian warga masyarakat tetap  nekat melakukan aktivitas yang dapat mempercepat penularan virus corona.  Kenyataan ini memperlihatkan dua  jenis perilaku yang  bertentangan, yaitu perilaku “prososial” di satu sisi dan di sisi lain perilaku “anti sosial”. Perilaku prososial merupakan suatu tindakan menolong yang mengungtungkan orang lain tanpa harus menyediakan suatu keuntungan langsung pada orang yang melakukan tindakan tersebut, dan mungkin bahkan melibatkan suatu resiko bagi orang yang menolong. Sebaliknya,  perilaku anti sosial adalah perilaku yang melawan kebiasaan masyarakat, norma sosial, keteraturan sosial dan kepentingan umum  yang mengakibatkan kerugian bagi masyarakat luas.

Tuntutan untuk menjalankan protokol kesehatan, seperti menggunakan masker, mencuci tangan, menjaga jarak dalam rangka menghindari dan memutus rantai penyebaran virus corona bukanlah tuntutan yang gampang  untuk dilakukan dalam waktu sekejap. Namun, hal itu tidak berarti  bahwa sikap dan perilaku yang demikian tidak dapat diubah atau tidak dapat diganti dengan perilaku baru sebagaimana yang diharapkan, karena manusia secara kodrati memiliki kemampuan untuk beradaptasi dengan lingkungan, termasuk pembentukan  perilaku  prososial  demi kepentingan dan keselamatan bersama.

Baca Juga :   UMKM, USAHA KECIL PANGAN DAERAH

Dalam teori mengenai perilaku manusia (Walgito, 2003), perilaku manusia dapat dibedakan menjadi dua bagian, yaitu perilaku yang refleksif dan perilaku yang non-refleksif. Perilaku refelksif merupakan perilaku yang terjadi atas reaksi secara spontan terhadap  stimulus (rangsangan) yang mengenai organisme tersebut. Misalnya, reaksi kedip mata bila kena sinar. Perilaku yang non-refleksif dikendalikan atau diatur oleh pusat kesadaran atau otak (proses psikologis). Perilaku atau aktivitas atas dasar proses psikologis inilah yang disebut aktivitas psikologis atau perilaku psikologis. Pada perilaku manusia, perilaku psikologis inilah yang dominan, di samping adanya perilaku yang refleksif. Perilaku psikologis merupakan perilaku yang dibentuk, dapat dikendalikan, karena itu dapat berubah dari waktu ke waktu, sebagai hasil proses belajar. Walgito (2003) mengemukakan tiga cara membentuk perilaku agar sesuai dengan yang diharapkan.

Pertama, pembentukan perilaku dengan pembiasaan (conditioning ). Salah satu cara pembentukan perilaku dapat ditempuh dengan kondisioning atau kebiasaan. Dengan cara membiasakan diri untuk berperilaku seperti yang diharapkan, akhirnya akan terbentuklah perilaku tersebut. Misalnya, anak dibiasakan bangun pagi, atau menggosok gigi sebelum tidur, mengucapkan terima kasih bila diberi sesuatu oleh orang lain, membiasakan diri untuk datang tidak terlambat di sekolah dan sebagainya.

Dalam konteks penanganan virus corona,  kita hendaknya membiasakan diri untuk menjalankan protokol kesehatan, antara lain  menggunakan masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak. Kita merasa adanya keanehan, kejanggalan atau ketidaknyamanan ketika kita mulai menjalankan protokol kesehatan sebagai suatu pola perilaku yang baru. Namun,  apabila kita membiasakan diri untuk melakukan aktivitas  seperti itu, maka tertentuklah perilaku baru atau pola hidup baru yang diharapkan atau yang diidealkan. Suatu perilaku yang baru atau pola hidup baru, apabila terus menerus dipraktikan akan  menjadi sebuah perilaku yang normal, dimana orang tidak lagi merasa aneh atau tidak nyaman untuk berperilaku.  Tanggung jawab kita adalah membiasakan diri dan membiasakan orang-orang di sekitar kita untuk berperilaku  sesuai dengan protokol penanganan virus corona. Dalam kenyataannya, tidak semua orang memiliki kesadaran pribadi untuk mematuhi protokol kesehatan. Dalam situasi seperti itu, aturan dan sanksi harus ditegakkan sebagai sarana pengkondisian atau pembiasaan. Jika orang tidak memiliki kesadaran pribadi untuk mematuhi protokol kesehatan, ia harus dikondisikan atau dipaksa untuk mematuhi protokol kesehatan.

Baca Juga :   SISI POSITIF VIRUS CORONA

Kedua, pembentukan perilaku dengan pengertian (insight ).  Di samping pembentukan perilaku dengan kondisioning atau pembiasaan, pembentukan perilaku dapat ditempuh dengan pengertian. Misalnya, bila mengendarai sepeda motor harus pakai helm, karena helm berguna untuk melindungi kepala apabila terjadi kecelakaan. Pengertian atau pemahaman akan fungsi helm mempengaruhi pola pikir seseorang  dan  pola pikir itulah yang menentukan pola berperilaku (mengenakan helm).

Sosialisasi bahaya virus corona dan protokol penanganan virus corona, baik secara langsung maupun melalui media (elektronik, cetak dan medsos) bertujuan agar kita memiliki pengertian tentang bahaya virus corona dan cara mencegahnya. Jika kita mengerti bahwa mencuci tangan, menjaga jarak, mengenakan masker, menjaga kesehatan tubuh merupakan cara untuk menghindarkan virus corona dari diri kita dan orang lain,  pengertian semacan itu mesti mewujud dalam perilaku. Dalam kenyataan,  banyak orang  tidak menjalankan protokol kesehatan karena mereka tidak tahu dan tidak mengerti mengenai virus corona. Pengertian atau pemahaman mengenai virus corona harus selalu ditanamkan dalam pikiran warga masyarakat oleh  tenaga medis, Satgas, aparat dan relawan dan warga masyarakat. Semakin banyak orang yang mengerti, semakin banyak pula orang yang berubah perilaku.

Ketiga, pembentukan perilaku dengan menggunakan model (modelling ).   Selain cara-cara pembentuk perilaku yang telah dikemukakan, pembentukan perilaku masih dapat ditempuh dengan menggunakan model atau contoh. Tingkah laku manusia dibentuk melalui belajar, yaitu belajar melalui observasi (pengamatan). Belajar melalui observasi terjadi ketika tingkah laku manusia dipengaruhi oleh hasil observasi (pengamatannya) terhadap orang lain, yang disebut model. Kalau kita bicara bahwa orang tua sebagai contoh anak-anaknya, pemimpin sebagai panutan yang dipimpinnya, pernyataan itu menunjukkan pembentukan perilaku dengan menggunakan model.

Baca Juga :   Moderasi Belajar Dalam Pendidikan

Dalam kaitan dengan penanganan virus corona, perilaku mengenakan masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak merupakan perilaku yang dipelajari melalui observasi (pengamatan) terhadap orang-orang di lingkungannya. Misalnya,  seorang anak akan selalu menggunakan masker jika melihat orang tuanya mengenakan masker atau ia mencuci tangan karena meniru kakaknya atau teman-temannya mencuci tangan. Seseorang akan meniru tingkah laku orang-orang di sekitarnya karena tingkah laku model itu memberikan dampak yang positif bagi dirinya sendiri dan orang lain. Kita pun harus meniru perilaku sehat yang ditampilkan oleh orang-orang di berbagai wilayah atau negara yang selamat dari serangan virus corona karena  mereka mematuhi protokol kesehatan. Kita tidak hanya belajar dari model, tetapi juga harus menjadi model (contoh, teladan, panutan) bagi anak-anak, anggota keluarga, tetangga, rekan kerja atau siapa pun dengan berperilaku sesuai protokol kesehatan.

Penanganan virus corona akan berhasil jika kita berperilaku sesuai dengan protokol kesehatan yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Protokol kesehatan merupakan panduan bagi kita untuk membentuk perilaku prososial. Ketika kita menjalankan protokol kesehatan dengan penuh disiplin, sesungguhnya kita sedang berperilaku prososial. Perilaku manusia sebagian besar dibentuk dan dipelajari.  Demikian pula, perilaku “anti sosial” dapat diubah menjadi perilaku “prososial” melalui pembiasaan (conditioning), pengertian (insight ), dan peniruan (modelling ).  Kita tidak memiliki pilihan lain saat ini dimana vaksin atau obat belum ditemukan, selain membentuk pola hidup yang baru agar kita sanggup hidup “berdampingan” dengan virus corona dan tetap bertahan dalam berbagai aktivitas yang amat penting bagi kehidupan pribadi maupun kehidupan sosial. Membentuk perilaku prososial  sesuai dengan protokol kesehatan merupakan jalan bijak untuk hadapi virus corona. Jika jalan bijak ini kita tempuh, tagar “IndonesiaTerserah”  layak kita ganti dengan tagar “IndonesiaTerbebaskan”.***

P. Silvester Nusa, CSsR, M.A.  ( Alumnus Program Pascasarjana Fakultas PsikologiUniversitas Gadjah Mada, Yogyakarta; Dosen STKIP Weetebula).

Leave a Reply

Your email address will not be published.